Posts tagged “larantuka

Mengenal Sub-bahasa Melayu Indonesia Timur

Indonesia121.jpg

Indonesia121.jpg

Kita semua sudah tahu bahwa bahasa Melayu telah menjadi Lingua Franca di Nusantara sejak berabad-abad yang lalu. Bahasa Melayu menjadi “jembatan” yang menghubungkan para pedagang di Nusantara maupun dengan pedagang asing. Rasa ingin tahu saya selalu menggelitik bagaimana awalnya proses itu terjadi? Padahal Nusantara ini memiliki banyak sekali bahasa. Mungkin penutur bahasa Melayu cukup banyak dan lebih mudah dipelajari, tetapi fokus tulisan saya kali ini ingin menjelaskan bagaimana bahasa Melayu mengalami metamorfosis menjadi beberapa sub-bahasa yang hingga kini masih digunakan oleh sebagian masyarakat di kawasan Indonesia Timur.

Bahasa Melayu mengalami perkembangan pesat sejak kedatangan bangsa Portugis pada abad ke 16 masehi. Portugis yang berpusat di Malaka pada tahun 1511 berusaha menguasai rempah-rempah di timur Nusantara, maka bahasa Melayu pun menjadi penghubung saat itu. Selain perdagangan, penyebaran agama juga menjadi salah satu misi Portugis ketika datang ke Nusantara. Hal yang sama juga dilakukan oleh Belanda ketika tiba di Nusantara pada akhir abad ke 16. Maka misi dan zending berdampingan menyebarkan agama Kristen di Nusantara, khususnya wilayah Indonesia Timur. Bahasa Melayu pun semakin memainkan peranannya yang strategis di kawasan ini. Oleh karena itu, bahasa Melayu menjadi sub-bahasa pada beberapa daerah di Indonesia Timur terutama yang sebagian atau kebanyakan masyarakatnya beragama Kristen. Daerah-daerah tersebut memiliki bahasa daerah namun bahasa Melayu lebih populer dan menjadi bahasa di daerah perkotaan. Sebut saja Sub-bahasa Melayu Kupang, Larantuka, Manado, Ambon hingga Papua. (more…)


Mencari Kayu Bakar di Hutan Lewotobi

    Jalan Trans Flores dengan latar gunung Lewotobi (Sumber/seruu.com)

Jalan Trans Flores dengan latar gunung Lewotobi (Sumber/seruu.com)

Mei 1995 saya menamatkan sekolah dasar di SDK Don Bosco 3 Kupang dan kedua orang tua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya ke SMPK Sactissima Trinitas Hokeng, sebuah SMP Katolik yang dikelola oleh biarawati SSpS (Servae Spiritus Sanctus) atau dalam bahasa Indonesia berarti Suster Misi Abdi Roh Kudus yaitu sebuah ordo suster yang berkarya dalam berbagai bidang, salah satunya adalah pendidikan. Keputusan ini dilakukan karena kelakuan saya yang sangat nakal sehingga –menurut mereka– saya harus dididik di dalam asrama yang penuh kedisiplinan.

Asrama yang letaknya 55 km dari kota Larantuka, Flores Timur ini terletak di desa Hokeng Jaya, sebuah desa di bawah kaki gunung Lewotobi dan diapit oleh kebun kopi peninggalan Belanda yang membentang dari timur hingga ke barat. Sekolah tersebut menempati area yang sangat luas bersama asrama putera (Emaus II), Asrama Puteri (St. Agnes), Biara Suster SSpS, Mess karyawan dan karyawati, kuburan para suster sejak zaman Belanda serta area kebun buah dan bunga yang cukup luas. Suasana malam di lingkungan sekolah ini sangat tenang karena letaknya agak jauh dari jalan raya lintas Flores, namun sedikit mencekam karena bersebelahan dengan area pemakaman suster yang sebagian sudah meninggal sebelum kemerdekaan RI. (more…)


Demi Radio Kesayangan

Setiap masyarakat kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT pasti tidak pernah melupakan tragedi banjir bandang yang terjadi pada tahun 1979.

Generasi yang lahir setelah tahun 1979 pun masih terngiang akan cerita miris itu dari sanak keluarga yang mengalaminya. Puluhan, mungkin ratusan korban meninggal dunia termasuk Tante saya (kakak pertama dari Ayah) yang saat itu sedang mengandung anak ketiga. Jasadnya hingga sekarang tidak pernah ditemukan. Banyak juga masyarakat yang kehilangan rumah, termasuk rumah keluarga Ayah saya yang hanya menyisahkan fondasi. Kondisi ini memaksa keluarga Ayah untuk membangun rumah di kelurahan lain yang relatif lebih aman serta dapat menghilangkan trauma akibat peristiwa tersebut. Saat itu Ayah sudah saya menetap di kota Kupang, setelah cukup lama merantau ke Surabaya.

Kini rumah yang hanya menyisahkan fondasi tersebut sudah dibangun kembali sebagai rumah keluarga kami yang baru. Kenangan pahit 30 tahun lalu yang tergurat pada puing bangunan itu kini sudah tak tampak lagi. Perlahan sirna seiring senyuman dan canda tawa kami sekeluarga. (more…)


Penggalan Kisah di “Zaman PKI”

Judul di atas sudah sedikit menjelaskan kalau tulisan saya ini memuat beberapa kisah yang terjadi selama Partai Komunis Indonesia (PKI) eksis hingga terkubur dalam sejarah republik ini.

Itulah yang saya maksudkan dengan “zaman PKI”. Ini hanya kisah orang-orang terdekat yang mengalami zaman itu. Jadi bukan tulisan yang ingin menambah kontroversi sejarah PKI. Saya sendiri  tidak  pernah sepenuhnya mempercayai satu versi tentang PKI seperti yang didoktrin oleh Orde Baru atau teori-teori konspirasi yang muncul pasca Reformasi. Bagi saya semuanya masih misterius karena banyak fakta yang belum terungkap. Biarkan para pakar sejarah yang membahasnya.

PKI yang masuk empat besar pada pemilu 1955 semakin tumbuh menjadi kekuatan politik, menyaingi kekuatan nasionalis dan agama. Orang-orang yang hidup di zaman itu, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, pasti merasakan kuatnya mobilisasi massa oleh PKI, entah untuk rapat akbar, kerja bakti atau aktivitas lainnya. Stadion Gelora Bung Karno menjadi saksi mati dari kekuatan massa PKI kala itu. Tidak sebatas kota-kota besar, jaringan PKI juga mengakar hingga ke kampung-kampung.

Menurut saya PKI juga memiliki kekuatan “ politik simbol” untuk mempengaruhi pikiran masyarakat. Ini istilah saya sendiri karena ketika melihat rekaman-rekaman film dokumenter pada era tersebut, gambar Palu dan Arit dengan merah sebagai warna dominan terpampang di mana-mana. Tiap sudut kota berkibar spanduk, bendera, atau mural lambang PKI dalam ukuran besar yang mewarnai tembok-tembok di pinggir jalan.

Logikanya jika tiap hari orang melihat symbol atau lambang tersebut maka PKI bisa menjadi dominan dalam pikiran mereka. Ini bisa saja cuma asumsi tetapi nyata dialami oleh ibu dari pacar saya. Beliau sebenarnya lahir di Yogyakarta, tetapi sejak kecil turut pindah ke Jakarta bersama orang tuanya. Beliau tumbuh dalam bayang-bayang kekuatan PKI. Setidaknya sejak SD hingga akhir SMP simbol-simbol PKI sering dilihatnya di mana-mana, khususnya ruang-ruang publik.

Saya ingin mengisahkan kembali bagaimana “politik simbol” PKI mempengaruhi beliau yang ketika itu masih kecil. Ada saat di mana beliau mendapatkan tugas sekolah untuk menggambar sesuatu dengan tema bebas, sesuai dengan keinginan para murid. Coba tebak apa yang digambar oleh beliau? Ternyata lukisannya adalah Palu dan Arit, lambang dari bendera PKI. Beliau mengakui bahwa ketika itu di benaknya hanya ada gambar Palu dan Arit karena sangat sering dilihatnya. Tidak mungkin beliau adalah simpatisan PKI karena saat itu masih kecil. Jadi layaknya anak-anak, hal apa yang dilihat maka hal itupun yang diekspresikan. Itu satu kisah seorang anak kecil yang tumbuh dan berkembang di “zaman PKI”. Zaman di mana simbol PKI sangat dominan dalam kehidupan masyarakat, dalam berbagai tingkat usia.

Ternyata kekuatan PKI tidak kekal. Bukan cuma kekuatan politik dan organisasi saja, namun orang-orangnya pun diberangus TNI akibat pergolakan 30 September atau 1 Oktober 1965, entah mana yang benar. Apapun misteri di balik peristiwa tersebut, bukan kapasitas saya untuk membahasnya. Saya cuma ingin tahu apa kisah orang-orang, entah simpatisan/anggota PKI atau orang-orang yang dituduh menjadi anggota PKI. Pasti banyak kisah tapi saya ingin menuturkan yang saya dengar dari saksi hidup.

Kisah pertama dari Yogyakarta. Tahun 1965 ketika pergolakan itu terjadi, Om saya sudah tercatat sebagai mahasiswa salah satu universitas di Yogyakarta. Ia berumur 20 Tahun kala itu. Sebagai seorang mahasiswa yang aktif, ia juga tergabung dalam Resimen Mahasiswa (Menwa) di kampusnya. Suatu saat Ia dan teman-temannya sesama anggota Menwa mengikuti latihan menembak. Sasarnnya adalah objek menyerupai manusia yang terbuat dari jerami. Singkat kata latihan pun berlangsung. Satu demi satu mulai menembaki sasaran yang cukup jauh, sesuai jarak tembak senjata yang digunakan. Semuanya berjalan dengan wajar hingga beberapa di antara mereka mendengar rintihan orang ketika tembakan tepat mengenai sasarannya. Mereka bertanya-tanya suara siapakah itu? Pelatih mereka pasti mendengarnya juga tetapi mengapa tidak bereaksi? Apakah ada objek hidup di balik objek mati yang menjadi sasaran tembak tersebut? Yang pasti bukan rakyat biasa. Menurut Om saya kemungkinan orang yang merintih tersebut adalah anggota PKI.

Mungkin pada zaman itu hanya segelintir yang berhasil lolos dari maut atau jeruji besi. Tidak hanya di kota-kota besar, pengejaran terhadap anggota PKI juga terjadi di kota-kota kecil, seperti kota Larantuka, tempat Ayah dan Ibu saya lahir dan tumbuh menjadi dewasa. Meskipun kota ini didominasi oleh Partai Katolik ( Parkat) karena mayoritas penduduknya beragama katolik, ada juga penduduknya yang katanya berafiliasi dengan PKI. Mereka yang tertangkap menjadi tontonan warga karena sering disuruh lari pada siang hari menyusuri jalan di kota yang kecil itu. Biasanya ada juga warga yang dipilih menjadi Algojo atau Penjagal para “ antek PKI “ yang malang nasibnya. Ada cerita yang berkembang bahwa salah seorang Algojo mendapatkan karma karena profesi tersebut yaitu salah satu anaknya menderita gangguan jiwa.

Saya sangat kagum dengan data intelijen pada saat itu yang mengetahui anggota-anggota PKI hingga ke basis masyarakat yang terkecil. Ada kisah bagaimana anggota PKI dideteksi. Salah satu cara yang diterapkan kala itu untuk mengetahui afiliasi masyarakat dengan PKI adalah dengan mengumumkan kepada warga kampung (salah satu daerah di NTT) bahwa PKI akan membagikan beras di lapangan terbuka. Bagi yang ingin mendapatkannya disuruh berlari menuju ke tempat tersebut. Maka beramai-ramailah orang kampung itu berlari menuju tempat yang dimaksud. Ternyata mereka terjebak. Mereka yang ingin mendapatkan beras dari PKI dituduh berafiliasi dengan organisasi tersebut. Nasib mereka sama dengan nasib “tertuduh antek PKI” lainnya. Sad ending bagi PKI secara organisasional, tetapi lebih menyedihkan nasib para “tertuduh” tersebut.

Itulah penggalan kisah di “zaman PKI”. Zaman di mana perubahan secepat membalikkan telapak tangan. Kejayaan menjadi kehancuran, from hero to zero. Tidak ada yang pasti. Hari ini adalah petani biasa, esok menjadi orang yang diburu pelor, pedang terhunus dan bayangan kamar gelap tanpa sinar matahari. Jadikanlah “zaman kelam” ini sebagai pelajaran bagi generasi selanjutnya.


“Fukuda”, Perwira Jepang yang Kasmaran (revisi)

Jika kita membaca ulang kisah penjajahan Jepang di Indonesia, tak dipungkiri lagi bahwa praktek-praktek kejam yang terorganisir seperti Romusha dan Jugun Ianfu meninggalkan luka di hati para korban dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Konon penjajahan yang hanya berlangsung selama 3 ½ tahun ini tidak kalah menyengsarakan rakyat Indonesia jika dibandingkan dengan penjajahan Belanda yang berlangsung selama 3 ½ abad. Catatan: lamanya penjajahan Belanda ini masih dapat diperdebatkan karena Belanda baru dapat menguasai Aceh, Nusa Tenggara dan daerah lain di Indonesia pada awal abad ke 20.

Pulau Jawa yang secara Geopolitik sangat strategis sebagai pusat kendali atas Nusantara yang terdiri dari ribuan pulau, memiliki banyak cerita tentang kejamnya penjajahan Jepang. Akhir-akhir ini program acara televisi yang mengisahkan hal tersebut sering menghiasi layar kaca kita. Masyarakat di daerah lain pasti memiliki kisah yang sama, namun saya tidak ingin mengurai lebih banyak tentang penjajahan Jepang karena selain tidak terlalu kredibel dalam bidang sejarah, saya hanya kembali menampilkan memori dan gambaran umum kita tentang para “agresor” tersebut.

Apakah ada kisah humanis yang menggambarkan sisi lain dari mereka? Mungkin jasa seorang Laksamana Maeda yang menyediakan rumahnya untuk persiapan kemerdekaan Indonesia menjawab pertanyaan tersebut. Pasti ada kisah lain yang tidak harus bersinggungan dengan revolusi Indonesia, tetapi terjadi dalam masyarakat kita dalam kurun waktu tersebut.

Saya ingin bercerita tentang kisah yang pernah dituturkan oleh Oma saya yang kini telah berusia 84 tahun. Kisah di mana beliau menjadi tokoh yang langsung berinteraksi dengan sang tokoh utama yaitu “ Fukuda”, seorang perwira Jepang yang kala itu bertugas di Bajawa, sebuah kota kecil di tengah pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Ini hanya kisah lisan yang menurut saya menarik untuk diceritakan kembali sebagai sebuah sejarah kecil (petite histoire) meskipun tidak dapat disandingkan dengan petite histoirenya Rosihan Anwar.

Seperti daerah lain di Indonesia, masyarakat Flores juga tidak dapat mengelak dari kerja paksa (romusha). Pembangunan berbagai jalan dan perkebunan kopi, seperti di Hokeng Flores Timur, Manggarai Flores Barat dan berbagai daerah mengharuskan sistem ini diterapkan untuk kepentingan penjajah Jepang. Sikap hormat terhadap penjajah Jepang juga diterapkan bagi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat dilarang untuk berkontak mata secara langsung dengan mereka. Namun yang membedakan, tidak ada kasus pemerkosaan terhadap gadis-gadis belia ataupun dijadikan jugun ianfu seperti yang terjadi pada daerah lain, mereka cukup menghormati wanita. Setidaknya itulah kesan Oma saya ketika berinteraksi dengan perwira maupun prajurit Jepang. Mungkin karena sikap-sikap yang cukup humanis inilah yang menyebabkan tidak terjadi pergolakan yang berarti di Flores.

Fukuda, seorang perwira Jepang yang mungkin berusia akhir 20 an pada tahun 1944 merepresentasi humanisme tentara Jepang di Bajawa kala itu. Entah di Jepang ia sudah memiliki istri atau belum, Fukuda tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya terhadap Oma saya yang ketika itu baru menikah dengan Opa saya. Pasangan muda yang belum memiliki anak itu baru saja pindah dari Larantuka, kota di ujung timur pulau Flores ke Bajawa. Saat itu Oma masih berusia 19 tahun dan Opa berumur 24 tahun. Kebetulan Opa dan Oma bersama ibu dari Oma menempati sebuah rumah di belakang rumah Fukuda.

Singkat kata, Fukuda pun sering bertandang ke rumah Opa dan Oma saya. Fukuda yang penuh kasmaran tidak menyangka jika Opa adalah suami dari Oma saya. Fukuda menyangka jika pemuda yang sering dilihatnya tersebut adalah kakak sang gadis yang ditaksirnya. Pendekatanpun dilakukan dengan “calon mertua” dan calon “kakak Ipar”. Meskipun bahasa Indonesianya tidak terlalu lancar tetapi Fukuda sangat suka bercerita berbagai hal yang berkaitan dengan Jepang. Biasanya ia sering ngobrol dengan Opa dan ibu dari Oma saya karena Oma yang pemalu hanya berani mengintip dari balik kain pengganti pintu kamar tidur. Sesekali Fukuda tanpa malu-malu membuang gas atau kentut. Anehnya, Fukuda telihat cuek dengan hal tersebut. Sikap yang sangat aneh bagi kita orang Indonesia. Oma, Opa dan Ibunya Oma menahan tawa karena tidak enak jika harus tertawa terbahak-bahak, tapi Fukuda terus melanjutkan ceritanya.

Namun ketika ia bersendawa, wajahnya yang putih langsung memerah, raut malu tersamar di wajahnya. Berulang kali Fukuda meminta maaf sambil membungkukkan tubuhnya, seperti tradisi orang Jepang. Oma saya menyimpulkan sendiri bahwa orang Jepang lebih malu bersendawa ketimbang kentut…hehehehe.

Fukuda ternyata tidak memaksakan kehendaknya ketika tahu jika pemuda yang sering dijumpai di rumah sang gadis adalah suami gadis tersebut. Fukudapun mundur secara teratur. Selanjutnya saya tidak ingat lagi apa cerita Oma tentang Fukuda. Oma dan Opa masih menetap di Bajawa hingga 1945, karena anak pertama mereka dilahirkan di sana. Berita kemerdekaan Indonesia dalam bentuk selebaran yang dibuang dari atas pesawat sampai juga ke masyarakat Bajawa. Entah kemana Fukuda, perwira Jepang yang kasamaran itu? Mungkin ia kembali ke negeri matahari terbit. Negara yang sangat dibanggakannya ketika bercerita dengan Ibu dari Oma saya, Jepang.

Mungkin kini Fukuda sudah meninggal, jika masih hidup tentunya sudah sangat tua dan mungkin saja masih teringat akan kisah cintanya di tanah jajahan. Cinta tak selamanya memiliki…hehehehe.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.