Oase Budaya Egaliter di Sungai Code

KOMPAS Yogyakarta-Kolom Keliling Kota 27 Agustus 2008

Oleh: Yohanes.A.D.Fernandez

Dinamika perkotaan di Indonesia sangat inhern dengan eksistensi sungai yang selalu memberikan warna berbeda di setiap zaman. Ibarat dua sisi mata uang, sungai dapat disejajarkan dengan ikon-ikon perkotaan lainnya sekaligus menjadi momok perkotaan. Kita bisa melihat ketenaran sungai Musi di Sumatera Selatan, khususnya kota Palembang, yang melebihi ketenaran jembatan Ampera sebagai jalur tranportasi dan simbol pariwisata. Dari Sumatera kita bisa beralih ke Kalimantan dan menyimak fungsi sungai Barito sebagai ruang interaksi sosial-ekonomi masyarakat urban di Kalimantan Timur. Sungai juga tak ketinggalan mewarnai kehidupan masyarakat urban di pulau Jawa. Sebut saja sungai Ciliwung dan sungai-sungai lain yang melintasi kota Jakarta selalu menjadi “selebriti” setiap kali musim hujan tiba karena sering menyebabkan terjadinya banjir, meskipun bukan merupakan faktor utama. Belum lagi masalah sosial dan tata kota karena menjamurnya pemukiman kumuh di pinggir sungai-sungai tersebut.

Setali tiga uang dengan sungai-sungai di Jakarta, sungai-sungai di kota Yogyakarta (Gajah Wong, Code, dan Winongo) juga menjadi salah satu problem sosial karena padatnya pemukiman penduduk, meskipun tidak separah di Jakarta. Kini pemukiman-pemukiman di pinggir sungai, khususnya sungai Code, sudah lebih terintegrasi dengan tata kota Yogyakarta ketimbang 20 tahun lalu. Dinamika kota Yogyakarta perlahan mulai mensejajarkan nama sungai Code, meskipun belum seutuhnya, dengan ikon-ikon kota seperti Malioboro, Tugu, dan yang lainnya. Pembangunan rusunawa dan ide wisata air dengan memberdayakan masyarakat setempat (community development) menegaskan good will pemerintah kota untuk menghilangkan citra negatif sungai Code. Walaupun terkesan naïf karena secara geografis kedalaman sungai Code kurang ideal dalam mendukung program ini serta kebiasaan masyarakat di beberapa kampung yang masih menjadikan sungai Code sebagai MCK, namun usaha ini patut diapresiasi. Setidaknya kondisi sosial dan fisik pemukiman setempat sudah tertata lebih baik. Kemandekan program wisata air tidak perlu ditanggapi secara pesimis dan sinis karena ada hikmah yang jauh lebih penting dari sekedar menjadikannya sebagai sebuah objek wisata.

Paradigma terhadap sungai Code sebagai objek atau ruang fisik dapat diperkaya dengan memahaminya sebagai ruang sosial dan, jika mau, bisa dijadikan model pengembangan kota yang lebih baik. Sebagai ruang sosial, sejak dulu sungai Code menjadi ruang bagi terciptanya budaya egaliter bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Sistem hirarki yang sangat kental dalam masyarakat Jawa, termasuk sebagian masyarakat yang tinggal di pinggir sungai, luntur ketika mereka memanfaatkan sungai Code dalam kehidupan sehari.

Hal ini terjadi karena samanya tindakan sosial masyarakat dalam menggunakan sungai Code, entah untuk MCK atau yang lainnya. Tidak ada tindakan berbeda yang berdasarkan tingkatan sosial, umur, agama, jenis kelamin atau identitas lainnya dalam menggunakan sungai Code, meskipun dalam kehidupan sehari-hari perbedaan tersebut sangat nampak. Budaya egaliter yang tercipta di sungai Code ini setidaknya menjadi oase bagi dinamika perkotaan dan bangsa pada umumnya, di tengah terancamnya pluralisme atau kesenjangan sosial-ekonomi yang semakin lebar antara si kaya dan si miskin. Jika kita mau belajar dari budaya egaliter di sungai Code maka niscaya kota dapat berkembang menjadi lebih manusiawi.

sumber gambar: http://www.bloggaul.com

Lihat Kompas Cetak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s