Partai Politik Baru dan Pembangunan Daerah

Berbicara mengenai kebutuhan dasar (basic need) rakyat Indonesia selama era reformasi ini, maka banyak kalangan sepakat bahwa tidak ada perubahan yang signifikan, bahkan cenderung menurun karena berbagai hal yang salah satunya adalah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada era pemerintahan Gus Dur, Megawati Soekarnoputri dan Soesilo Bambang Yudhoyono. Pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat sejak krisis ekonomi tahun 1998 tidak dibarengi dengan pemerataan ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat miskin. Meskipun begitu, pada sisi lain kita bisa melihat banyak perubahan yang telah dicapai, termasuk penerapan sistem demokrasi yang menggantikan sistem otoriter pemerintahan Orde Baru. Salah satu bentuk pengimplementasian sistem demokrasi ini adalah terbukanya kesempatan yang luas bagi setiap individu atau kelompok yang ingin “bertarung” pada pemilu atau pilkada, dengan membentuk partai politik sebagai “kendaraan” untuk mencapai kekuasaan politik yang diinginkan.

Sejak konsep demokrasi ala Indonesia ini diterapkan pada pemilu tahun 1999 berbagai partai politik tumbuh secara subur, meskipun tidak memiliki ideologi yang jelas. Selama 10 tahun reformasi berjalan, partai politik ibarat “murid sekolah” yang datang dan pergi dengan berbagai predikat. Ada yang lulus tetapi ada juga yang tidak lulus verifikasi, ada yang berhasil mencapai prestasi politik karena dapat merebut sejumlah kursi di Legislatif atau memenangkan pilkada di sejumlah daerah, namun banyak yang terpaksa “gigit jari” karena hanya menjadi penggembira Pemilu tanpa mencapai prestasi apapun.

Saya meyakini bahwa partai politik yang dianalogikan sebagai murid sekolah ini hanya berjuang untuk mencapai prestasi kelompok atau golongan, sedangkan “sekolah” (baca: negara) hanya menjadi alat untuk mencapai kepentingannya tersebut. Kepentingan negara atau bangsa hanya menjadi kata-kata dalam platform yang sulit, bahkan tidak pernah diimplementasikan. Masalah-masalah krusial yang dihadapi oleh bangsa hanya menjadi wacana yang tak kunjung ditanggapi secara serius, sejauh dahaga akan kekuasaan belum terpenuhi. Pertanyaannya adalah apakah partai-partai politik yang telah lolos verifikasi faktual beberapa waktu lalu hanya menjadi bagian dari fenomena ini? Hal ini dapat dilihat beberapa tahun ke depan ketika partai-partai politik tersebut, khususnya yang baru muncul melaksanakan kinerjanya. Penulis belum bisa memprediksi seperti apa kinerja partai-partai politik baru, namun satu hal yang pasti adalah target jangka pendek partai-partai politik tersebut yakni sukses dalam Pemilu tahun 2009.

Pemilu tahun 2009 menjadi “pintu” bagi partai-partai politik ini untuk meraih kekuasaan, yang sering dijadikan alasan sebagai media pengimplementasian idealisme partai untuk kepentingan seluruh rakyat. Lantas apa yang akan dilakukan oleh partai-partai politik baru jika gagal total pada Pemilu tahun 2009? Ini hanya merupakan pertanyaan retoris karena jawabannya pasti berkaitan dengan konsolidasi partai untuk mengikuti Pemilu berikutnya atau Pilkada yang hampir terjadi sepanjang tahun. Bagaimana jika konsolidasi yang dilakukan tetap tidak membuahkan hasil? Apakah partai-partai politik tersebut akan kembali berkonsolidasi untuk Pemilu atau Pilkada berikutnya? Jika begitu maka partai politik tidak memberikan pengaruh apapun bagi bangsa ini, bahkan hanya menjadi “benalu” karena mendapatkan alokasi dana dari pemerintah. Tentu saja hal ini tidak dikehendaki oleh kita semua, maka prinsipnya adalah manfaat partai politik harus tetap dirasakan oleh rakyat Indonesia dengan atau tanpa kekuasaan.

Merefleksi Kinerja Partai Politik Lama

Secara organisasional partai-partai politik yang akan mengikuti Pemilu pertama kali pada tahun 2009 memiliki kelemahan karena minimnya pengalaman dan basis dukungan di “akar rumput”, jika dibandingkan dengan partai-partai politik lama yang sudah lebih dahulu berkiprah di ranah politik. Keterbatasan ini membuat peluang untuk sukses dalam Pemilu tahun 2009 menjadi sangat kecil, namun jika partai-partai politik baru ingin belajar dari pengalaman parta-partai politik lama, baik yang sukses maupun tidak, maka banyak pelajaran yang dapat diperoleh.

Pelajaran yang dapat dikaji adalah bagaimana membuat nama partai membekas dalam ingatan, jika bisa selalu ada di hati rakyat Indonesia. Partai-partai politik baru tidak perlu “menimbah ilmu” dari partai-partai politik besar seperti Partai Golkar karena kiprahnya yang sudah lama di dunia perpolitikan Indonesia, atau PDIP dan Partai Demokrat yang mengusung nama besar Megawati Soekarnoputri dan Soesilo Bambang Yodhoyono. Belajarlah dari partai-partai politik kelas menengah, seperti PKS yang baru menjadi partisipan pemilu tahun 1999. Usia yang cukup muda ini dapat membuat PKS tampil sebagai kekuatan baru yang mengancam eksistensi partai-partai politik yang besar. Kesuksesan PKS yang paling aktual adalah terpilihnya calon Gubernur dan wakil Gubernur yang diusungnya dalam Pilkada Jawa Barat dan Sumatera Utara beberapa saat lalu. Kekuatan PKS tidak terletak pada ideologi yang diusungnya, karena sebagian besar rakyat Indonesia sudah cukup moderat, namun terletak pada corak kinerjanya yang populis. PKS mampu menerjemahkan permasalahan yang dihadapi oleh rakyat dengan mengembangkan program-program konkrit yang dibutuhkan oleh rakyat. Singkatnya PKS mampu “memikat hati” pendukungnya karena tidak berkutat pada urusan politik saja, tetapi dapat merealisasikan program-program sosial yang justru langsung dirasakan oleh rakyat.

Esensi dari contoh yang dikemukakan oleh penulis di atas bukan mengenai kiprah dari PKS, namun mengajak partai-partai politik yang baru muncul untuk sejak dini memikirkan dan mengatasi masalah-masalah multidimensi, tentu saja sesuai kapasitasnya, sebagai strategi jangka panjang untuk memperoleh dukungan masyarakat. Penulis membayangkan betapa sulitnya partai-partai politik yang baru untuk sukses dalam Pemilu atau Pilkada jika tidak pernah bersentuhan dengan masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh rakyat.

Strategi yang Bernuansa Lokal

Menurut hemat penulis, peran serta partai politik untuk membantu rakyat secara konkrit menjadi strategi jangka panjang yang dapat menguntungkan rakyat sekaligus menguntungkan partai politik. Penerapan program-program yang pro rakyat secara berkesinambungan ini merupakan cara yang efektif untuk memperkuat ikatan politik antara keduanya. Ikatan politik yang kuat ini akan menjamin eksistensi partai politik selama berjuang dalam politik praktis.

Strategi konkrit yang diterapkan seharusnya sesuai dengan tipologi masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Oleh karena itu, sudah saatnya partai politik meninggalkan sistem kepemimpinan yang bersifat top down seperti yang diterapkan oleh kebanyakan partai politik saat ini, dan mulai menerapkan sistem yang yang bersifat bottom up. Sistem ini memungkinkan kepengurusan partai di daerah (DPD atau DPC) dapat mengembangkan program-program konkrit yang inovatif dan kreatif sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

Pengurus partai politik di daerah yang tingkat pendidikan masyarakatnya rendah dapat memfasilitasi masyarakat setempat untuk mengenyam pendidikan secara gratis, setidaknya pelajaran-pelajaran dasar, atau pengurus partai di daerah agraris dapat memfasilitasi petani setempat untuk memperoleh informasi-informasi muthakir seputar pertanian. Kembangkanlah berbagai program yang benuansa lokal sesuai karakter geografi, sosial atau budaya setempat. Partai politik tidak hanya menjadi patner pemerintah dalam ranah politik saja, tetapi juga di dalam ranah yang lain. Penulis yakin kader-kader partai politik di daerah memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam berbagai bidang yang bisa digunakan untuk mendukung strategi-strategi tersebut.

Sudah waktunya bagi partai-partai politik di Indonesia untuk merubah paradigma yang oportunis dan instan guna memperoleh dukungan masyarakat. Politik uang atau program-program bantuan yang bersifat situasional karena menjelang Pemilu atau Pilkada harus diganti dengan program-program berkelanjutan. Strategi ini akan memberikan pendidikan politik kepada rakyat untuk melihat secara rasional mana partai politik yang benar-benar berjuang untuk kepentingan rakyat dan mana yang tidak. Strategi ini juga niscaya akan menghasilkan kader-kader yang benar-benar berpikir dan bersikap sebagai negarawan, tidak hanya sebagai politisi, karena negarawan akan memikirkan generasi yang akan datang bukan Pemilu yang akan datang.

One response

  1. Tulisan Anda berinspirasi, teruslah berkarya…
    http://mobil88.wordpress.com

    February 1, 2010 at 5:19 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s