“DPRGATE”, BK DPR dan Politik Biaya Tinggi

Sepak terjang Komisi Pembarantasan Korupsi (KPK) dalam membongkar skandal suap atau gratifikasi yang melibatkan sejumlah oknum anggota DPR patut diapresiasi. Masyarakat menaruh harapan yang besar kepada KPK untuk membasmi para “pengkhianat rakyat” ini. Sayang, penangkapan Al Amin Nasution dan kawan-kawan juga menunjukkan bobroknya kualitas mental sebagian anggota dewan yang katanya terhormat. Istilah “DPRgate” patut kita sematkan karena ada kesan DPR menjadi ruang bagi tumbuhnya praktek-praktek suap.

Selain buruknya kualitas mental, “DPRgate” juga merefleksikan permasalahan sistem pencegahan (preventif) di Indonesia. “DPRgate” menunjukkan adanya kelemahan sistem pengawasan internal terhadap tindak tanduk oknum anggota dewan. Berkaitan dengan hal ini, Badan Kehormatan (BK) DPR sudah difungsikan untuk menindak anggota dewan yang melanggar kode etik. Namun, BK DPR tidak mampu mengawasi secara utuh perilaku anggota dewan yang disinyalir melanggar kode etik, apalagi mencegahnya.

BK DPR bukan Tuhan yang mampu melihat buruknya hati oknum anggota dewan di balik wajah alim dan ideologi religius yang diusung partainya. “Tangan” BK DPR tidak cukup banyak dan panjang untuk menjangkau jejak para wakil rakyat yang nyeleneh. Intinya kita tidak bisa berharap banyak pada sistem internal yang ada di DPR saat ini. Oleh karena itu, perlu adanya pembenahan sistem pengawasan dan pencegahan internal yang komprehensif.

Fungsi BK DPR perlu diperluas lagi. BK DPR harus diberikan wewenang untuk mengawasi secara detil kerja sama antara anggota DPR dengan pihak eksternal (rekanan), apalagi pada komisi-komisi yang menjadi “lahan basah”. Pengawasan perlu digiatkan lagi secara ketat, sehingga tidak memberikan ruang bagi terciptanya negosiasi ilegal antara anggota dewan dengan pihak lain. Jika begitu, maka niat oknum anggota DPR yang ingin melakukan praktek suap dapat dicegah.

Perlu juga dilakukannya revolusi sistem perekrutan anggota BK DPR. Individu-individu yang direkrut bukan hanya anggota dewan saja, tetapi perlu juga melibatkan pihak eksternal. Jika perlu semua anggota BK DPR merupakan pihak eksternal, tentu saja dengan kapabilitas yang memadai. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja BK DPR karena tidak adanya ikatan partai atau komisi dengan pihak yang diawasi. Jika demikian maka netralitas BK DPR menjadi harapan baru, meskipun secara struktur masih menjadi bagian dari sistem internal DPR.
Adapun permasalahan sistem yang lebih fundamental yaitu politik biaya tinggi yang berlaku di Indonesia saat ini. Politik biaya tinggi ini terbukti dari banyaknya jumlah uang yang harus dikeluarkan oleh seorang calon legislatif (caleg) untuk menjadi anggota DPR. Sudah bukan rahasia umum bahwa jumlah uang sangat menentukan nomor urut seorang caleg dalam partai yang mengusungnya.

Persaingan antar caleg bukan mengandalkan kapabilitas dan integritas diri melainkan materi. Alhasil siapa yang memiliki lebih banyak uang maka ia yang berhak menjadi anggota DPR, meskipun harus berhutang. Setelah menjadi anggota legislatif pun mereka masih dipusingkan dengan iuran yang harus disetor ke kas parpol. Para anggota legislatif juga harus memikirkan pemilu berikutnya, sehingga tabungan selama menjadi anggota DPR harus mencukupi pencalonan kembali sebagai anggota legislatif. Terang saja arus politik biaya tinggi yang mengombang-ambingkan para anggota dewan ini menstimulus terjadinya praktek suap.
Partai politik harus memiliki good will untuk merubah pola rekrutmen caleg. Jumlah uang memang penting untuk membiayai operasional, namun bukan menjadi variabel utama. Partai politik harus memiliki alternatif lain untuk mendapatkan pemasukan. Bukan saatnya lagi mengandalkan caleg sebagai mesin uang. Kualitas individu, baik kognitif maupun mental, harus menjadi syarat utama.

Niscaya perubahan sistem ini akan mencegah terjadinya skandal suap di masa mendatang. Anggota DPR pun bisa lebih fokus memikirkan permasalahan rakyat, bukan kepentingan individu dan golongan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s