Kebijakan Energi yang “Menyehatkan”

Jeritan rakyat yang semakin marjinal karena himpitan ekonomi seakan tak kunjung henti, bahkan semakin pilu. Pilu karena kenaikan harga BBM yang mencapai 28 % beberapa waktu lalu disertai lonjakan harga kebutuhan pokok, membuat rakyat hanya bisa mengelus dada sambil menahan rasa lapar. Kini ketika sebagian besar rakyat masih bingung memikirkan apa yang akan dikonsumsinya esok hari, pemerintah melalui Pertamina mengumumkan kenaikan harga elpiji. Sejak bergulirnya kebijakan ini, rakyat di sejumlah daerah hanya bisa berkeluh kesah tanpa bisa berbuat apa-apa.

Kenaikan harga elpiji saat ini merefleksikan kebijakan energi dalam negeri yang tidak antisipatif karena tidak siap menghadapi konsekuensinya. Kebijakan konversi energi dari minyak tanah menjadi gas yang digulirkan oleh pemerintah tahun 2007 lalu berdampak pada meningkatnya permintaan (demand) akan tabung gas, maka pemerintah harus menambah pasokan tabung gas (supply). Penambahan pasokan tabung gas ini membutuhkan tambahan biaya produksi yang tidak dapat ditanggung oleh subisidi, sehingga memaksa Pertamina untuk menaikkan harga sebanyak 23 % guna menghindari kerugian. Kondisi demikian tidak diantisipasi oleh pemerintah, padahal rasionalitas ekonomi sudah dapat disadari sedari awal.

Sungguh ironis karena kebijakan konversi minyak tanah menjadi gas yang memiliki tujuan mulia yaitu untuk mengurangi beban APBN, malah menimbulkan masalah baru yaitu kenaikan harga tabung gas di saat masyarakat masih kesulitan menata ekonominya sejak kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu. Berdasarkan kondisi tersebut, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu pertama, saat ini kebijakan konversi energi tidak dirancang secara komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang menjadi konsekuensi dari kebijakan tersebut, apalagi yang berdampak langsung kepada rakyat. Kedua, menejemen distribusi tabung gas yang belum ditata dengan baik, sehingga masih terjadi kelangkaan di mana-mana, ketiga, perlu adanya langkah konkrit yang harus diterapkan untuk mengantisipasi “perebutan” tabung gas yang berukuran 3 kilogram (kg) antar kelas sosial di dalam masyarakat.

Kondisi demikian perlu direspon oleh pemerintah dengan menerapkan langkah strategis untuk mengatasi carut marutnya kebijakan energi di negeri ini. Secara mikro, pemerintah (BPH Migas) perlu membenahi menejemen dan pengawasan distribusi tabung gas di pasaran, sehingga masalah kelangkaan tabung gas dapat diatasi. Selain itu, kenaikan harga tabung gas berukuran 12 kilogram (kg) perlu disertai pengaturan dan pengawasan pembelian tabung gas berukuran 3 kilogram (kg). Hal ini perlu dilakukan karena disparitas harga memungkinkan masyarakat kelas menegah ke atas yang biasa menggunakan tabung gas berukuran 12 kilogram (kg) akan beralih menggunakan tabung gas yang berukuran 3 kilogram (kg) yang digunakan oleh masyarakat marjinal.

Secara makro, pemerintah perlu memiliki blue print kebijakan energi jangka panjang, guna mengantisipasi terulangnya kejadian ini. Kiranya proyek-proyek bioenergi yang kini terbengkalai perlu digalakan lagi melalui mekanisme pengawasan yang ketat. Selain mengurangi ketergantungan pada energi fosil, proyek-proyek padat karya ini dapat membuka kesempatan kerja bagi rakyat Indonesia. Selain itu, harus adanya jaminan konsistensi kebijakan konversi energi yang digulirkan oleh pemerintah sebagai alternatif lain. Penulis membayangkan suatu saat masyarakat Indonesia tidak lagi bergantung pada Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam segala aspek, karena sudah beralih ke Bahan Bakar Gas (BBG). Harga gas yang murah dan ramah lingkungan pantas dijadikan konsumsi dalam negeri, dan harga minyak dunia yang mahal dapat menguntungkan jika sepenuhnya diekspor. Jika kebijakan energi ini sudah terimplementasi maka rakyat Indonesia akan semakin sejahtera karena pemerintah bisa memberikan subsidi tanpa perlu membebani APBN. Kebijakan energi ini niscaya dapat “menyehatkan” kondisi ekonomi rakyat miskin yang kini sedang terpuruk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s