Polisi Tidur dan Tenggang Rasa Kaum Urban

Beberapa tahun terakhir ini kita semakin sering menjumpai polisi tidur yang dibangun swadaya oleh masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka. Polisi tidur yang semula terkonsentrasi pada lorong-lorong kampung atau perumahan, kini mulai menjadi rintangan bagi pengendara motor yang melintasi jalan-jalan besar dan padat lalu lintas. Apa sebenarnya makna dari menjamurnya polisi tidur yang kini tidak hanya menjadi bagian dari komunitas tempat tinggal, namun sudah menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar yaitu kaum urban?

Pertanyaan di atas dapat dijawab dalam konteks yang lebih besar, yaitu dengan merefleksi perkembangan kota-kota besar di Indonesia. Keterbatasan lahan untuk pembangunan kota menyebabkan terjadinya ekspansi besar-besaran atas lahan-lahan di sekitar kota. Kampung-kampung yang masih berkultur ndeso juga tak luput dari ekspansi ini. Ada yang tidak beruntung karena lenyap dari peta tata kota akibat digusur. Kampung yang beruntung dapat lolos dari penggusuran, namun harus menerima konsekuensi lain. Konsekuensinya adalah ketenangan yang selama ini dinikmati harus tergantikan dengan hiruk pikuk perkotaan. Kadar hiruk pikuk perkotaan semakin bertambah seiring dengan modernitas. Pertumbuhan kuantitas moda transportasi semakin menambah hiruk pikuk kota, maka masyarakat tidak memiliki cara lain selain menghadapinya.

Lain kota lain cerita. Salah satu masalah di kota Jakarta yaitu kemacetan menyebabkan berbagai kendaraan sering mencari jalan alternatif yaitu melewati lorong-lorong kampung atau perumahan. Terang saja kondisi ini membuat para penghuninya gerah. Hiruk pikuk kota yang selama ini dirasakan tak dapat ditoleran lagi, sehingga semakin banyaknya polisi tidur yang dibangun di lingkungan perumahan agar dapat menghambat laju kendaraan yang tidak memikirkan ketenangan warga setempat.

Yogyakarta memiliki cerita lain. Semakin bertambahnya pelajar dari tahun ke tahun menyebabkan pasar moda transportasi semakin menggeliat. Jika tahun 70 an dan 80 an Yogyakarta dikenal sebagai kota sepeda, kini dapat dikatakan Yogyakarta sebagai kota sepeda motor, karena menjamurnya pengguna sepeda motor, khususnya kalangan mahasiswa. Hampir setiap sudut kota ini dilalui oleh mahasiswa yang bersepeda motor, bahkan pematang sawah pun bisa menjadi jalan alternatif. Menyebarnya kampus dan kos-kosan di penjuru kota Yogyakarta menyebabkan hal tersebut dimungkinkan. Apalagi kondisi psikis anak muda yang ingin diperhatikan dengan cara ugal-ugalan di jalan. Belum lagi karakter mahasiswa pendatang yang sering tidak menghormati penduduk asli yang menginginkan kedamaian. Jika demikian maka di mana lagi tempat yang tenang di kota ini?

Tidak adanya tenggang rasa dari pengguna sepeda motor, khususnya mahasiswa ini menyebabkan semakin banyak dibangunnya polisi tidur. Masyarakat yang membangun polisi tidur pun menanggalkan sikap tenggang rasanya dengan membangun polisi tidur secara “gila-gilaan”. Polisi tidur bisa dibangun setiap dua meter sekali. Masyarakat pun tidak membiarkan pengguna sepeda motor lolos begitu saja jika ada bagian polisi tidur yang hancur. Bagian-bagian yang hancur tersebut akan digantikan dengan batu atau pot bunga agar tetap menghambat laju kendaraan. Sikap tenggang rasa warga yang semakin menipis ini semakin mencolok ketika pada beberapa lorong kampung, pembangunan polisi tidur disertai juga tulisan “kalau jatuh bangun sendiri”.

Kondisi demikian tidak dapat dipandang sebelah mata karena secara laten bersifat destruktif. Penyematan identitas musuh sudah terbentuk pada titik ini, tinggal menunggu pemantik yang dapat membakarnya. Hal ini menjadi pembelajaran bagi pemerintah yang harus memperhatikan dimensi sosial dalam pembangunan kota. Pemerintah memiliki tanggung jawab moril untuk membangkitkan rasa tenggang rasa kaum urban, di samping pembangunan fisik, agar dapat menciptkan kehidupan yang lebih nyaman di tengah hiruk pikuknya kota.

2 responses

  1. larantuquerros

    betul, yang harus ditumbuhkan kesadaran diri untuk saling menghormati….ide bagus juga kalo ada standar kendaraan biar ga ganggu pengedara lainnya. bukan cuma helm standar aja..

    January 25, 2010 at 6:36 am

  2. kalau dengan setting jogja, yaa begitulah adanya..
    sepeda onthel kini makin tersingkir oleh sepeda motor yang dipacu sekencang2nya dan dengan suara knalpot yang sebising2nya.
    kalau perlu, ganti semua warna lampu menjadi putih agar menyilaukan pengendara lainnya.

    jangan salahkan jika ada polisi tidur dmana2, karena larangan matikan mesin motor tidak lagi diindahkan.

    January 25, 2010 at 6:09 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s