Bocah Pluralis

Langkah kakinya tiba-tiba terhenti, sepatu big boss hitam yang selalu dikenakan menapak erat lantai, menghentak tak beraturan, namun melambat seolah-olah mengikuti irama…. Tanpa ada yang memerintah, tangan-tangan pun seia sekata, menepuk kedua sisi celana pendek merah yang dikenakannya, tubuh yang mungil itu menggoyang-goyangkan kepalanya sembari menengadah, melihat jejeran kaset-kaset lagu di etalase sebuah toko…

“ heheheh…”dalam hati ia tertawa, dan menyadari keberadaannya, “buat apa beta (saya) pi (ke) sini?” Tanya bocah berhidung mancung itu dalam batinnya.
Tapi irama lagu jingle bell itu membiusnya, membuat hatinya berseri-seri…ya!tentu saja berseri-seri karena sebentar lagi Hari Natal akan tiba. Ia tidak membayangkan baju baru atau sepatu baru, karena itu bukan tradisi keluarganya.. Menghiasi pohon Natal yang selalu disukai anak kecil pun tak pernah terbesit di benaknya….tentu saja tidak pernah terbesit karena keluarganya lebih tertarik membuat kandang Natal yang dihiasi patung Yesus dalam palungan, lengkap dengan Bunda Maria, Yosep dan gembala-gembala serta domba-domba lucu. Ia hanya membayangkan keceriaan bersama teman-teman, ketika menyusuri gang-gang di kompeleks rumahnya. Wajah-wajah yang imut itu hanya membayangkan kue-kue dan minuman ringan yang bisa dicicipi dari rumah ke rumah…
Rinnnnooooo” teriakan itu membuyarkan lamunannya, “ayo cepat! bemo (angkot) su (sudah) datang!” Dilihatnya lambaian Nius, teman karibnya itu memanggil-manggil dengan wajah sedikit panik. Segeranya bergegas, sambil tergopoh-gopoh ia berlari melewati pintu toko dan menghampiri Nius. Belum sempat mengatur nafasnya, bemo (angkot) yang ditunggu sedari tadi akhirnya berhenti di depan mereka, terlihat angka 11 tertulis di bagian atas kaca depan bemo (angkot) itu, artinya jurusan Perumnas Pasir Panjang, tempat Rino dan Nius tinggal.
“ Ayo cepat naik!!” dengan sedikit membentak, sang konjak (kondektur) menarik tangan Nius. Tubuh yang kurus itu terhunyung, segera kakinya menapak tangga, dipegangnya pintu Mitshubisi L300 itu sembari berusaha menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh, serentak Rino dan rombongan anak SD yang lain menjejali bemo (angkot) bernama Widuri, yang cukup estetik itu.

Rino dan Nius berteman sejak duduk di bangku kelas 1 SD. Tinggal di kompleks yang sama semakin mengakrabkan mereka kerena sering pulang sekolah bersama. Keduanya sama-sama lahir di Kota Kupang, 9 tahun lalu, ketika Perumnas Pasir Panjang belum lama dibuka oleh pemerintah, namun orang tua mereka sama-sama pendatang yang mengadu nasib di Ibu kota yang masih berstatus admninistrasi ini.
Orang tua Rino berasal dari sebuah kabupaten di ujung Timur pulau Flores, tepatnya di Ibu kota Larantuka. Kota yang pernah menjadi daerah kekuasaan Portugis 500 tahun silam ini dapat ditempuh dengan menggunakan kapal Feri selama satu malam dari Kota Kupang.

Rino tidak memahami seluk beluk sejarah kampung halaman orang tuanya, yang di masa lampau kaya akan interaksi budaya. Ia hanya memahami kisah demi kisah, legenda dan penggalan-penggalan sejarah, yang membuatnya hanyut dalam dekapan sang Opa. Sosok sang Opa yang kaya akan cerita sejarah-budaya kampung halamannya, membuat ia selalu ingin bertanya dan terus bertanya. Namun, Laut Sawu yang memisahkan mereka membuatnya harus mengurungkan niat itu. Ia simpan seribu satu pertanyaan yang akan diungkapkan jika bersua dengan sang Opa.
Berbeda dengan orang tua Rino yang berasal dari Kabupaten Flores Timur, orang tua Nius berasal dari ujung barat pulau Flores yaitu Kabupaten Manggarai. Terletak di satu daratan tidak membuat tradisi, bahasa dan kisah sejarah keduanya sama. Sejarah Manggarai pada masa lampau lebih didominasi oleh sengketa antara Kesultanan Gowa (Makasar) dan Kesultanan Bima. Pengaruh kedua kesultanan ini sudah lama saling mendominasi di daratan Flores dan sekitarnya. Jejak agama Islam dalam masyarakat pesisir Flores menjadi bukti pengaruh kedua Kesultanan Islam ini, sebelum agama Katolik yang dibawa oleh bangsa Portugis menyebar pesat di seluruh daratan Flores.

****

Obrolan riuh anak-anak terdengar samar, dikalahkan irama lagu ice-ice baby karya raper asal Amerika Sugar Ice yang lagi hits. Dentuman bas lagu dari dua speaker besar yang diletakkan di bawah tempat duduk menuai protes dari beberapa wanita paruh baya, getaran bas yang terasa menembus jantung membuat mereka tak bisa menahan emosi, segera sang sopir dimarahi, “sopir putar lagu pelan sedikit! Lu (kau) pikir yang naik ini oto (mobil) anak muda semua?! Katong (kita) su (sudah) tua!! Ini yang lain ju (juga) anak kecil semua, kasihan sedikit!!”

Sang sopir yang berumur pertengahan 20 an tahun itu tak sanggup berdebat, suara ibu-ibu yang cerewet apalagi marah itu membuatnya terpaksa mengecilkan volume tape. Ia tak mau pertengkaran mengganggu konsentrasinya, nyawa manusia ada di tangannya. Tapi ia pasti tidak berpikir sejauh itu, ia hanya menikmati profesinya sebagai sopir bemo (angkot) yang banyak digemari remaja perempuan….kok bisa? Wajahnya yang rupawan, dengan rambut air hitam, berbalur minyak rambut serta disisir rapi ke belakang, dengan sedikit jambul (tren tahun 80 an hingga awal 90an) ditariknya ke depan, serta semprotan minyak wangi yang harum memenuhi ruangan. Sedikit tambahan pernak pernik di mobil dan alunan musik yang sedang digemari anak muda, maka hati cewek-cewek SMP dan SMA kota Kupang pasti jatuh ke pelukannya.
Tapi….ada untungnya juga bagi gadis-gadis itu jika menjalin kasih dengannya, apalagi kalo bukan mendapatkan fasilitas gratis pergi dan pulang sekolah tanpa mengeluarkan sepeser pun…mereka cukup mengucapkan terima kasih atau pura-pura membayar, namun ditolak sang Konjak (kondektur) karena sudah dipesan oleh siapa lagi kalo bukan kekasihnya, sang Sopir. Tidak heran jika gadis-gadis yang biasanya bertipe centil ini rela menunggu “bemo (angkot) kekasihnya” selama berjam-berjam.
Rino tidak mempedulikan hiruk pikuk di dalam bemo (angkot), ia hanya menikmati semilir angin sambil membayangkan lezatnya makan siang. Rino coba menebak-nebak makanan apa yang sedang dihidangkan sang Mama, apakah potongan ikan Tongkol goreng dan sayur rumpu rampe (campuran daun, bunga, dan buah pepaya) khas Flores Timur, sayur daun Katup yang berkuah? Atau sayur Merungge (daun kelor)? Ia hanya bisa menebak-nebak dalam hati. Baginya, masakan sang Mamalah yang terbaik, sederhana namun memuaskan.

Tak dirasanya bemo (angkot) melaju di jalan menurun, sedikit menggoyahkan pijakan. Membuyarkan lamunannya lagi.
Gereja Katedral Kristus Raja yang menjulang tinggi di pusat kota Kupang terlihat dari balik jendela bemo (angkot) yang kabur, dibongkokkan juga tubuh mungilnya untuk melihat patung pahlawan lokal pulau Timor yang tepat berada di pinggir jalan Raya. Patung Sonbai namanya. Sosok di balik patung itu itu adalah Sobe Sonbai III atau Sait Mis Nisnoni, seorang Liurai (raja) kerajaan Sonbait yang berpusat di Kauniki (Fatuleu), sebuah daerah pedalaman di pulau Timor. Sonbai sangat gigih berjuang menentang penjajahan Belanda di pulau Timor pada awal abad ke 20, maka jejak perjuangannya pun direkam, dikenang dan diukir menjadi sosok pria dengan wajah penuh semangat, setengah memekik, seolah-olah sedang memerintahkan….”serang!”.

Perasaannya bergetar. Tapi ia tidak mengerti. Entah ini hanya merupakan perasaan nasionalisme daerah, atau nasionalisme bangsa, tidak pernah terbesit apa lagi dipahami oleh bocah daerah berumur 9 tahun. Ia hanya ingin menikmati perasaan ini.
Bemo (angkot) berwarna coklat itu terus melaju. Jalan yang diapit oleh toko-toko itu diterjangnya. Di sinilah warga kota Kupang biasa membeli berbagai kebutuhannya, mulai dari bahan bangunan hingga berbagai model pakaian. Jalan sepanjang ± 2 km itu melintasi teluk Kupang, namun derunya ombak dan buih-buih air laut yang memutih tertutup oleh jejeran toko-toko yang mayoritas dimiliki oleh etnis Tionghoa. Beberapa di antaranya milik keluarga teman-teman sekelas Rino yang juga keturunan Tionghoa. Perbedaan etnis tidak merenggangkan hubungan mereka, karena hubungan akrab dapat saja terjalin.

Memang, ketika masih duduk di bangku kelas 2 Rino pernah berkelahi dengan Robert teman sebangkunya yang beretnis Tionghoa, namun bukan karena perbedaan etnis, tapi hanya perkelahian anak kecil yang saling mengejek satu sama lain. Kini mereka semakin akrab, bahkan Robert beberapa kali mengajak Rino ke rumahnya yang sekaligus menjadi toko onderdil motor.
Gemuruh ombak pun semakin tenggelam di tengah hiruk pikuknya orang-orang yang berseliweran ke sana ke mari. Di balik toko-toko itu pun belangsung aktivitas lain yang biasanya terlihat sibuk pada pagi hari. Terbitnya matahari menandai transaksi hasil laut dimulai, riuh suara ibu-ibu yang mengenakan sarung sebatas pinggang, serta baju kaos dengan penutup kepala bundar seperti topi sayup-sayup terdengar, beradu dengan gemuruhnya ombak. Warga kota Kupang biasanya menyebut daerah ini sebagai Kampung Solor, mungkin karena daerah ini pertama kali didiami oleh warga yang berasal dari pulau Solor di kabupaten Flores Timur. Penduduknya mayoritas beragama Islam, merupakan ciri yang umum perkampungan pesisir di Nusantara.
“Widuri” terus melaju, seakan beradu dengan garis pantai teluk Kupang yang tak berujung. Warna coklat metalik yang melapisinya semakin berkilau diterpa pancaran sang surya.

Rino tetap menikmati hembusan angin sepoi-sepoi, pandangannya seakan menyelam ke dalam lautan, mengagumi indahnya alam seraya memuji kebesaran Tuhan.
Pandangannya tak luput dari sepasang kekasih berseragam SMA, yang sedang bercengkrama di bawah pohon Ketapang. Pohon Ketapang itu tumbuh dengan kokoh di atas bebatuan cadas yang menantang lautan lepas. Hempasan gelombang menerjang bebatuan menjadi buih-buih putih berserakan di mana-mana. Hembusan angin laut merebahkan kepala sang gadis ke bahu kekasihnya, seolah memohon untuk dilindungi. Sang kekasih dengan sigap memeluk erat bahu kanannya, terbesit ingin menyatakan, “aku ada di sini untukmu.” Entah cinta monyet atau cinta sejati, hanya mereka yang tahu. Rino hanya menatap dengan polos, tanpa mengerti apa arti bahasa tubuh mereka.

Sepasang kekasih itu segera berlalu dari pandangannya, samar-samar pulau Semau pun menghilang seturut berlalunya panorama teluk Kupang, segera terganti dengan jejeran rumah-rumah permanen milik penduduk.
Jenuh melihat rumah-rumah yang selalu dilihatnya ketika pulang sekolah, Rino memalingkan wajahnya ke sisi kanan. Tampak dari kejauhan sebuah patung buaya berwajah garang, bercokol di tengah pertigaan selama bertahun-tahun. Orang-orang menyematkan nama Strat A pada pertigaan yang khas ini, entah dari mana nama itu berasal.

Tatapan tajam Rino tak bergeming dari pertigaan yang menjadi kenangan tragis baginya. Pikirannya menerawang, mengingat kembali kecelakaan 5 tahun lalu yang menimpa ia, kakaknya Ani dan sang Bapak. Motor bebek Kawasaki keluaran tahun 80, yang ditumpangi mereka tertabrak sepeda yang dtumpangi seorang anak muda.
Keinginan untuk mengantarkan sang Tanta ke pelabuhan Tenau ternyata membawa petaka…
Mungkin konyol bagi orang dewasa, namun lajunya sepeda yang menabrak sisi kiri motor yang ditumpangi oleh mereka secara dasyat, sangat mengguncang Rino yang saat itu masih berumur 4 tahun. Ia masih mengingat dengan jelas kerumunan orang dewasa berdatangan dan mengangkat tubuh mungilnya itu. Ia segera digendong dan coba ditenangkan dengan minuman, kue dan makanan lain, namun tangisannya tak terhentikan. Ia lupa berapa lama tangisannya itu berlangsung.
Lima tahun telah berlalu, namun luka di tangannya masih membekas. Luka ini juga mengingatkannya pada sosok Mbok, wanita paruh baya asal tanah Jawa yang berprofesi sebagai tukang urut. Getir wajahnya karena kenangan buruk tiba-tiba berubah menjadi senyuman, lesung pipi kembali nampak di kedua pipinya, mengingat sosok wanita yang tidak diketahui nama aslinya itu.

Senyumnya semakin melebar, karena teringat sikap si mbok yang kocak….kocak karena kebiasaan mengeluarkan latah saru kata orang Jawa.

Pertemuan keduanya berawal ketika luka di tangan Rino sudah sembuh, namun masih terasa sakit, karena kata Mamanya ada urat yang salah. Solusinya harus diurut, dan pilihan dijatuhkan pada Mbok yang sudah terkenal di lingkungan tempat ia tinggal. Singkat cerita, tangan Rino akhirnya diurut oleh Mbok.
Rino menjerit ketika Mbok mulai menguatkan tekanan pada bagian tertentu, namun jerit kesakitan itu sekejap berubah menjadi gelak tawa, karena latah saru si mbok yang tak kunjung berhenti ketika sedang menarik tangan Rino. Entah memang alami atau hanya strategi, tapi yang pasti si mbok mampu mempengaruhi kondisi psikis Rino yang kesakitan menjadi gembira. Entah di mana Mbok kini berada. Jasanya, meskipun kecil, selalu terpatri di hati Rino.

****
Bemo (angkot) terus melaju meninggalkan kenangan Rino satu per satu. Pandangan Rino tak luput dari hamparan pasir panjang, tempatnya dulu sering bertamasya bersama keluarga.
Tanpa harus mencapai ujung pantai itu, sang sopir segera menyalakan lampu sign kanan sebagai pertanda bagi kendaraan lain bahwa “Widuri” akan segera berbelok ke arah kanan.
Rumah makan Kawanua khas masakan Manado di sisi kiri jalan terlihat sepi. “Widuri” terus meluncur di jalan beraspal, namun agak bergelombang.
Rino mengeratkan pegangan. Jalan menanjak dapat saja menghempaskan tubuh mungilnya jika tidak menguatkan pijakan dan pegangan. Dilihatnya penumpang lain juga waspada, namun masih ada anak SD yang tetap terlelap dalam tidurnya. Jalan bergelombang sesekali menghempaskan tubuh mereka, namun tidak tergubris.
“ Hehehehe” Rino dan Nius serempak tertawa. Seorang anak kaget dari tidurnya yang nyenyak. Jalan yang tidak rata membenturkan kepalanya ke kaca belakang. Diusapkannya kepala itu sambil merintih kesakitan. Nius ingin terus tertawa tapi dihentikan Rino, “kasihan dia, sonde (tidak) enak ketawa!” mereka hanya bisa menahan tawa sambil memalingkan wajah.
Sopir mulai sering menginjak pedal rem, menurunkan anak SD satu per satu, termasuk Nius. Tempat duduk yang sudah kosong segera ditempati oleh Rino bersama beberapa orang tua dan anak SD yang tersisa.
Rino memalingkan wajahnya ke sebelah kiri dan tampak Pak Suparto, tetangga di depan rumahnya sedang berjalan bersama bapak-bapak yang lain. Mereka sama-sama menggunakan Peci di kepala. Terlihat Sajadah terlipat di pundak, namun ada juga yang memegangnya.
Dalam hati Rino bergumam, “pasti abis sholat Jum’at, tapi Sunu di mana? mungkin dia jalan deng (dengan) anak-anak yang lain”. Sunu, anak Pak Suparto, merupakan teman sepermainannya, meskipun umur Sunu lebih tua 2 tahun. Rino sering melihat Sunu, Pak Suparto dan beberapa tetangga yang beragama Islam selalu pergi ke Masjid ketika hari Jumat tiba. Itu bukan hal baru baginya.
Rino tak dapat menahan rasa kantuknya yang semakin terasa. Ia pun terlelap dengan cepat. Dalam mimpinya yang tak jelas, ia mendengar ada orang yang memanggil dengan suara samar-samar. “Ade-ade!” sang konjak (kondektur) beberapa kali memanggilnya. Rino segera terjaga dari tidurnya, dengan kepala yang sedikit pusing dicobanya melihat sekeliling, ternyata tinggal ia satu-satunya penumpang yang masih tersisa. “Lu (kau) turun di mana?!” sang konjak kembali berujar. Rino mencoba mengenali keadaan di luar. Dilihatnya ujung jalan Ranamese yang semakin dekat, segera ia menjawab, “di Wairinding 1!”. “Kalo begitu lu (kau) turun di sini sa (saja) e ade?! Katong (kami) mau makan siang dolo (dulu)” seru sang konjak (kondektur).
Dengan wajah kecewa bercampur marah Rino mengangguk. Konjak (kondektur) segera mengetuk pintu, memberikan tanda pada sang sopir untuk berhenti.
Rino tak dapat menyembunyikan wajah lesunya. Ia segera menuruni tangga bemo (angkot) sembari membayar ongkos seratus perak. Dilihatnya bemo (angkot) “Widuri” itu berbelok ke arah jalan Nangka meninggalkan ia seorang diri.
Namun, wajah lesunya kembali tersenyum ketika melihat teman-temannya, Adi, Akbar, dan Made sedang bermain bola di kejauhan. Ia teringat akan sesuatu. Mereka merencanakan lari pagi esok hari. Namun yang terpenting adalah “perjalanan silahturami” pada hari Natal yang tinggal dua hari lagi. Hal yang sama juga dilakukan ketika Hari Raya Lebaran tiba. Wajah dan identitas yang berbeda larut dalam kegembiraan. Tawa dan canda selalu selaras. Juga seiring langkah kaki-kaki kecil yang mengejar bola.
Wajah berseri bocah-bocah lugu itu memancarkan kedamaian bagi kepenatan dan kebencian hati manusia.

Lihat kemudian.com

4 responses

  1. larantuquerros

    terima kasih..motivasi yang besar untuk saya. Terusalah berkarya juga dengan spesialisasi anda.

    February 2, 2010 at 7:07 am

  2. Tulisan Anda berinspirasi, teruslah berkarya…
    http://mobil88.wordpress.com

    February 1, 2010 at 5:58 am

  3. larantuquerros

    Kenangan masa kacil di kupang talalu mantap, banyk kisah, carita yg susah dilupakan..95 beta su kaluar dari kupang,masok asrama di larantuka.. tapi kenangan di sd don bosco, perumnas dan sekitarnya, ntn liga pohon tuak,dll…salut buat kupang kota karang, smoga makin maju.

    September 1, 2009 at 6:17 am

  4. Pale

    tulisan mantap Aba,
    abis baca beta rindu mau pulang.
    beta rindu bangun amper siang ko pi gendok ikan di pasar oeba
    beta rindu gali cacing di belakang hotel kristal buat pancing di posing kalo pas meting.
    beta rindu pasiar otto lampu 11,
    beta rindu stand ganteng di halte strat A sambil lihat anak2 sekolah tunggu bemo
    beta rindu maen PS 2 di pak nyoman di perumnas
    beta rindu maen dengan ANJANA (anak jalan nangka), duduk2 di STANKER

    yang paling pasti berindu mama dengan papa, anak2, basodara di jl. nangka no.45
    be janji sonde lama lai beta pulang bawa GELAR.

    salut dan salam kenal buat Aba Yohanes

    P A L E

    May 13, 2009 at 4:46 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s