Celoteh Vagina

Oleh: M.G.Noviarizal.D.F

Hai namaku Vagina namun pemiliku biasa memanggilku Ayu. Untuk privasinya, aku tak akan mengungkapkan siapa jati dirinya. Biar ia bisa sedikit leluasa menikmati hidupnya yang sudah sulit itu. Aku hanya bisa memberikan sedikit bocoran bahwa kami, aku dan pemilikku tinggal di areal pasar kembang. Jangan bodoh dengan mengatakan tidak tahu di mana letak kompleks tersebut.

Kata tamu-tamuku yang sering sowan kepadaku, aku cantik. Entahlah, dalamnya hati siapa yang tahu. Buktinya tiap kali mampir mereka selalu meludahi aku sebagai puncak menderunya nafas pemiliknya. Si boy ceking yang kemarin, liurnya terasa asin. Selidik punya selidik ternyata pemiliknya berdomisili di pantai. Pantas saja. Kalau si Jack yang berbodi ekstra besar, ekstra kasar juga perangainya. Tanpa ba bi bu aku langsung dihempaskan hingga bagian tubuh tertentuku lecet-lecet. Tapi si Jack nggak tahan lama. Sebentar aja dia sudah meludahi aku. Mana manis pula liurnya. Apa pemiliknya bekerja di pabrik gula ya?. Pekerja di pabrik gula kan juga kadang-kadang…. Peduli amat.

Oh iya, aku paling disayang lho oleh pemilikku. Setiap hari aku dimandikan dengan menggunakan cairan khusus. Biar awet muda dan penuh vitalitas. Kata pemilikku akulah tumpuan hidupnya. Gara-gara aku, ia bisa membangun rumah , meskipun beratap rumbia, di kampungnya. Atas berkat usahaku, anaknya bisa bersekolah, dibelikan baju dan mainan baru. Makin sering aku menerima sowanan, makin sumringah wajahnya. Entahlah, tapi kadang-kadang aku bosan juga seperti ini terus. Tapi apa yang harus kulakukan? Aku ditakdirkan untuk seperti rupa ini. Terkadang pula aku takut. Takut tubuhku korengan seperti si Wati, tetangga yang sebangsa denganku. Pemiliknya adalah teman pemilikku. Si Wati sekarang tubuhnya korengan, gara-gara tempo hari dia disatroni si Alex, yang punya korengan di tubuhnya. Jangkit deh. Si Wati sekarang pucat pasi, lemah, tak bisa beraktifitas sebagaimana mestinya. Jika sudah begitu, sebatang karalah aku, karena pemilikku pun akan merana.

Kadang pula, ada beberapa lainnya, seperti si Ragil dan kawan-kawannya yang malu-malu. Mau sowan kok pakai topeng karet segala. Ketika kutanya pada berbagai kesempatan terpisah umumnya mereka cuma tersenyum. Bisik mereka, biar lebih aman. Haaa???? Aman??? Aman dari siapa? Mereka pun tak mengerti. Mereka tetap seprti itu memakai topeng karet, yang membuat mereka sulit bernafas. Kasihan…..

Pernah aku berpikir untuk hanya menerima sowanan kepada satu tukang ludah saja di sisa hidupku. Meskipun tugasku untuk diludahi tapi aku cukup puas, jika dia hanya memilihku untuk diludahi, dan selalu begitu hingga kelak, aku sudah tak bisa diludahi dan dia sudah tak bisa meludah lagi. Tapi kapankah itu terjadi? Lagi-lagi aku menjawab dengan lesu…..Entahlah…..

Nasib Erna lain lagi. Dia saudara jauhku. Meskipun dia cantik, masih fresh dan bervitalitas, jarang dikunjungi. Asal tahu saja, dia telah menjadi apa yang aku cita-citakan. Hanya menerima satu sowanan tukang ludah. Tapi kenapa ya dia jarang sekali diludahi? Desas-desusnya Erna harus bersaing dengan tiga orang kaum kami sejenis dalam memperebutkan tempat di hati si Andi, peludah tetapnya itu. Katanya Erna dan ketiga saingannya itu sudah sah untuk dimiliki si Andi menurut hukum yang berlaku Hukum yang mana? Oh Andi yang playboy. Hebat betul dia bisa memilih, sedangkan aku, Erna dan sohib kami senasib dan sepenanggungan tidak diberi kesempatan. Bahkan bermimpi untuk memiliki pilihan pun kami tak kuasa. Tuh kan aku jadi sedih. Oh iya kami juga bisa bersedih lho, meskipun Anda sekalian tidak pernah melihat kesedihan kami.

Hmmm…..sudah dulu ya..aku harus pergi bersama pemilikku menjenguk si Rahma yang kemarin katanya baru saja memuntahkan sesosok makhluk yang serupa dengan pemilikku, tapi masih sangat kecil, hanya bisa menangis. Kasihan Rahma pasti keletihan. Makhluk tersebut juga memiliki…..teman kecil sebangsa kami. Entahlah kelak nanti, apa teman baru kami, kepunyaan makhluk kecil itu juga bernasib seperti kami…saban hari diludahi, tapi aku tetap tersenyum. Aku kan pahlawan. Pahlawan bagi pemilikku, pahlawan bagi para tukang ludah. Apalah dayaku……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s