Dan Tuhan-pun Bercerita

Oleh: M.G.Noviarizal.D.F

Dengan sekali geretan silet, pergelngan tangan kiri wanita 30-an tahun itu langsung tersayat. Darah mulai mengucur deras. Perih tak tertahankan berawal dari tindakan nekad tersebut. Semakin lama kondisinya makin kritis, pandangannya berkunang-kunang lalu berubah menjadi gelap gulita. Ya wanita itu meregang nyawa di dalam kamar tidurnya yang terkunci rapat. Dia mati karena bunuh diri. Aku sebetulnya mengetahui kejadian tersebut, bahkan aku sudah mengetahui rencana bunuh diri tersebut. Namun aku tak bisa dan tak mau menghentikan aksi nekad tersebut karena akulah sang pencerita, karena akulah Tuhan yang mengetahui segala-galanya.

Lima jam kemudian wanita itu ditemukan sudah tak bernyawa lagi oleh pembantunya yang masih abg. Kata orang arwahnya sudah menghadap ke hadiratku. Seketika rumah itu menjadi ramai dipenuhi oleh aparat kepolisian yang datang untuk menyelidiki. Tiap sudut rumah disisir, para penghuni rumah diinterogasi, termasuk sang suami yang sudah beberapa malam tak pulang ke rumah. Ya sang suamilah pokok dari peristiwa itu. Wanita itu mati karena cintanya yang besar pada sang suami. Karena cintanya yang besar tersebut ia tak rela sama sekali jika suaminya harus membagi waktu kepada yang lain, ia enggan untuk dimadu, ia sakit hati karena berbagi suami. Ah seperti judul film saja.

Aku tahu karena akulah Tuhan. Banyak kotbah-kotbah di rumah-rumah ibadat yang mengatakan aku tahu segala sesuatu. Karena ada anggapan seperti itu aku enjoy saja. Aku cukup menikmati pernyataan-pernyataan tersebut karena aku memang paling tahu. Karena aku juga sang pencerita maka baiklah aku akan menceritakan kisah hidup wanita yang mati bunuh diri tersebut. Berawal dari pernikahan sepuluh tahun lalu, antara si wanita dengan suaminya. Rumah tangga mereka awalnya bahagia, hingga setahun lalu ketika suaminya ingin menikah lagi lantaran sang wanita tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal segala upaya telah mereka lakukan. Mulai dari terapi modern sampai ke terapi super tradisional. Dan nihil.

Aku tahu dalam hati wanita itu menolak. Tapi iya luluh juga karena meyakini pernikahan poligami merupakan restu dariku sebagai Tuhan. Apalagi ada anggapan yang diyakini wanita itu, dan wanita-wanita lainnya, bahwa seorang wanita harus patuh pada perkataan suaminya, kembali lagi semua itu atas restu dariku sebagai Tuhan. Singkat cerita menikahlah sang suami dengan wanita lain, atas persetujuan yang tidak disetujui dalam hati oleh sang wanita sebagai istri pertamanya. Perih yang ditorehkan silet di pergelangan tangannya tidak sebanding dengan hatinya yang teriris-iris ketika menyaksikan pernikahan dan perkawinan tersebut. Perih itu makin bertambah ketika dua bulan kemudian wanita istri kedua tersebut ketahuan hamil dan melahirkan bayinya sembilan bulan kemudian.

Meskipun sang suami bersikap “Adil” dalam membagi waktu dan harta tetap saja si wanita istri pertama, merasa sedih. Tiap malam ia selalu berdoa kepadaku karena akulah Tuhan. Mempertanyakan mengapa sampai terjadi seperti ini. “Ya Tuhan mengapa semua ini ditimpakan kepada hamba. Hamba tidak mempunyai pilihan lain untuk menuruti perkataan suami hamba atau hamba akan diceraikan olehnya Tuhan. Kenapa harus hamba dan kenapa harus begini?” begitu curhat sekalian protesnya kepadaku. Aku selalu menjawab bahwa, sebagai Tuhan aku telah memberikan kemampuan pada manusia untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Hidup manusia adalah pertaruangan abadi antara dua pilihan tersebut. Yang selalu terjadi adalah manusia mencatut namaku, karena aku adalah Tuhan, untuk menjustifikasi segala perbuatan mereka. Tapi tentu saja jawabanku dalam setiap doa sang wanita tersebut tidak bisa didengar olehnya karena sebagai Tuhan, aku adalah abstrak dan maya yang transenden. Merasa menemui jalan buntu wanita itu mulai bertindak nekad, ia merencanakan untuk bunuh diri. Dibelinya silet baru yang masih tajam di toko kelontong. Pintu kamar lalu dikuncinya. Dengan mata bercucuran air mata ia menggeret pergelangan tangan kirinya, hingga darah deras menetes. Ya wanita itu meregang nyawa di dalam kamar tidurnya yang terkunci rapat. Ya dia telah mati.

Sebagai Tuhan dan sang pencerita, aku akan terus menyaksikan beraneka peristiwa lain di muka bumi ini. Karena akulah Tuhan yang maha tahu. Aku akan terus bercerita sampai orang tidak lagi mempercayai dan menganggap aku adalah Tuhan yang maha tahu. Aku adalah semu dan abstrak. Serta mungkin transenden, kata orang-orang yang berkotbah di rumah-rumah ibadat

One response

  1. bagus sekali, terutama alurnya. Tuhan Mahatahu, tapi cuek, begitu? Tuhan yang hendak membunuh diriNya sendiri, begitu? Luar biasa

    December 8, 2008 at 8:05 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s