Sumpah Serapah! Sebuah Refleksi Sejarah Budaya

Jika kita bangsa Indonesia masih meyakini kekuatan sumpah serapah dari orang-orang yang tersakiti, tertindas dan termarginal karena perbuatan kita maka kita pasti menahan diri untuk menyakiti oang lain.

Dalam budaya Nusantara, sumpah serapah merupakan manifestasi paling nyata akan penderitaan batin atau fisik karena ketidakberdayaan. Sasaran dari sumpah serapah bisa tertuju pada orang yang menyakiti, namun bisa juga orang terdekatnya, seperti keluarga. Sasaran sumpah serapah pun bisa malampaui zaman, tidak hanya mereka yang sudah lahir tetapi juga mereka yang belum lahir, yaitu keturunan dari orang yang disumpahi bahkan hingga beberapa generasi setelahnya. Tragis, tidak tahu menahu pokok permasalahan tapi terkena getahnya. Getahnya bisa bermacam-macam, tergantung kata-kata yang keluar dari mulut sang penyumpah, cenderung hal-hal yang irasional. Percaya ga percaya itulah yang terjadi pada masa lampau, entah sekarang.

Karena sumpah serapah ibunya, Malin Kundang berubah menjadi batu. Sakit hati sang Ibu karena tidak diakui oleh si anak membuat hal itu terjadi. Cerita ini bisa saja rekaan masa lalu, namun esensinya kita tidak boleh menyakiti orang lain, terutama ibu kita. Ada lagi kisah yang tidak kalah fenomenal, yaitu sumpah serapah Mpu Gandring ketika dibunuh oleh Ken Arok dengan keris buatannya sendiri. Ken Arok dan tujuh turunannya disumpah akan mati oleh keris tersebut. Alhasil, setelah membunuh Tunggul Ametung dengan keris tersebut, kematian pun menjemput Ken Arok, lagi-lagi oleh keris Mpu Gandring. Bunuh membunuh dengan menggunakan keris terus terjadi. Kematian Anusapati, Tohjaya, dan generasi-generasi selanjutnya membuktikan sumpah serapah sang Mpu. Apakah ini kisah nyata atau sekali lagi cuma rekaan pujangga Singosari? Petiklah maknanya.

Kisah-kisah tragis karena sumpah serapah terjadi di mana-mana. Tanah kelahiran orang tua saya di Flores Timur juga punya kisah lain. Entah mengapa, ada sebuah keluarga yang anak laki-lakinya terkena penyakit aneh ketika sudah dewasa dan berujung pada kematian tanpa diketahui sebab musababnya. Polanya sama, sebelum meninggal, mereka merasakan tubuhnya panas, seperti terbakar. Dokter pun tidak bisa mengungkap penyebabnya. Cerita yang berkembang merujuk pada perbuatan masa lalu pendahulu mereka yang ketika itu menjabat sebagai Kakang, yaitu perwakilan Raja di kampung-kampung. Ternyata beliau pernah membakar sebuah keluarga dalam keadaan hidup bersama rumah mereka karena tidak membayarkan upeti (hasil panen). Konon keluarga yang dibakar bersumpah agar turunannya juga merasakan penderitaan mereka, yaitu terbakar hingga meninggal. Menakutkan bukan? Masih banyak lagi cerita tentang sumpah serapah yang saya yakin kita semua pasti pernah mendengarnya.

Orang-orang yang skeptis atau lebih mengagungkan rasional pasti beranggapan ada penjelasan yang lebih rasional. Bagi mereka, kata atau ucapan tidak mungkin memiliki kekuatan fisik. Sejujurnya, saya juga sulit menemukan korelasi antara sumpah serapah dengan kejadian yang mengikutinya, tapi pasti ada penjelasannya.

Kita semua sepakat bahwa yang bersumpah adalah orang yang tersakiti atau tertindas. Meskipun sumpah mereka terkesan keji dan sadis tapi itulah ungkapan ketidakberdayaan mereka. Bagi saya, sumpah mereka adalah doa mereka. Dalam ajaran agama, doa orang tertindas adalah yang paling didengar oleh Tuhan. Mungkin Tuhan menjawabnya. Jadi dalam tingkat tertentu, cukup logis bukan? Ini cuma pendapat pribadi. Apapun penjelasannya, yang terpenting adalah pesan moral di balik ini yaitu sebisa mungkin kita tidak menyakiti orang lain dengan cara apapun.

Jika kita seorang anak, tentu saja setiap kata dan perbuatan jangan sampai menyakiti orang tua. Apakah rasa cinta dan kasih sayang kita cukup kuat menopang hubungan kita dengan orang tua? Jika kita adalah pemimpin, apakah cukup bijaksana dalam membina hubungan dengan rakyat? Tiap hubungan sosial harus ditopang oleh nilai-nilai hidup yang kuat, jika tidak maka pihak yang lemah akan tersakiti. Itulah esensinya, sumpah serapah merupakan cerminan dari hubungan yang tidak seimbang. Inilah saatnya bagi kita untuk menanamkan kasih bagi sesama. Jika sudah begitu maka tidak perlu bersumpah serapah bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s