Maturnuwun Opo Nuwun Sewu Mas?

Ada kisah menarik di awal Milenium. Ketika itu pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tanah Jawa, khususnya Yogyakarta.

Tujuan saya jelas yaitu ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Pilihan saya jatuh pada Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang menjadi kiblat masyarakat di kampung saya. Sudah pasti saya membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan makanan, kebiasaan atau bahasa masyarakat setempat. Saya tidak sendiri karena hampir semua mahasiswa yang berasal dari luar pulau Jawa, khususnya teman-teman saya dari NTT, juga mengalami hal yang sama.

Kisah yang akan saya utarakan di sini bukan tentang diri saya, tetapi tentang teman seangkatan di kampus yang sama yang juga sekampung halaman. Sebut saja namanya Roni (nama samaran). Sejak pertama datang ke Yogyakarta, Roni ingin cepat berbaur dengan masyarakat setempat. Oleh karena itu ia sering menggunakan bahasa Jawa meskipun belum lancar. Saya dan teman-teman yang lain sudah memperingati Roni agar gunakan saja bahasa Indonesia selama belum yakin akan kosakata Jawa yang hendak diucapkan. Ini untuk menghindari kesalahpahaman karena akan merugikannya, namun Roni tetap tidak peduli. Roni tidak menggubris karena belum terkena getahnya.

Suatu saat ketika pulang kuliah seperti biasa Roni menumpang bus dari Mrican (daerah kampus kami) menuju ke kosnya di dekat perempatan Kaliurang. Oleh karena kosnya terletak di tengah pemukiman masyarakat, maka ia harus melewati rumah-rumah penduduk yang berhimpitan. Kebetulan ada sekelompok pemuda yang sedang berkumpul sambil berbincang-bincang. Ketika melewati mereka, ia sedikit membungkukkan badannya dan dengan penuh percaya diri menyapa “Maturnuwun (terima kasih) mas”. Sapaan Roni membuat para pemuda tersebut keheranan. Seorang di antara mereka langsung bertanya kenapa ia mengucapkan terima kasih? Roni langsung menyadari kesalahannya dan cepat-cepat memperbaiki “maksud saya Nuwun Sewu (maaf/permisi) mas”. Spontan para pemuda tersebut tertawa terbahak-bahak. Kata mereka “ngomong aja bahasa Indonesia mas, kita juga negerti kok”. Ternyata Roni sering keliru membedakan kedua kata tersebut. Sejak kejadian itu ia kapok menggunakan bahasa Jawa.

Itulah salah kisah culture shock mahasiswa perantau.

One response

  1. Ichal

    kawan..tidak bertemu di dunia nyata..akhirnya bersua di dunia maya..ok lah…jadi senyum sendiri dan bertanya2 dimana roni sekarang..

    March 1, 2010 at 6:41 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s