Demi Radio Kesayangan

Setiap masyarakat kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT pasti tidak pernah melupakan tragedi banjir bandang yang terjadi pada tahun 1979.

Generasi yang lahir setelah tahun 1979 pun masih terngiang akan cerita miris itu dari sanak keluarga yang mengalaminya. Puluhan, mungkin ratusan korban meninggal dunia termasuk Tante saya (kakak pertama dari Ayah) yang saat itu sedang mengandung anak ketiga. Jasadnya hingga sekarang tidak pernah ditemukan. Banyak juga masyarakat yang kehilangan rumah, termasuk rumah keluarga Ayah saya yang hanya menyisahkan fondasi. Kondisi ini memaksa keluarga Ayah untuk membangun rumah di kelurahan lain yang relatif lebih aman serta dapat menghilangkan trauma akibat peristiwa tersebut. Saat itu Ayah sudah saya menetap di kota Kupang, setelah cukup lama merantau ke Surabaya.

Kini rumah yang hanya menyisahkan fondasi tersebut sudah dibangun kembali sebagai rumah keluarga kami yang baru. Kenangan pahit 30 tahun lalu yang tergurat pada puing bangunan itu kini sudah tak tampak lagi. Perlahan sirna seiring senyuman dan canda tawa kami sekeluarga.

Sepahit-pahitnya kenangan itu, ada cerita menarik yang membuat saya tersenyum, bahkan tertawa. Cerita ini tentang almarhum Opa saya yang meskipun kehilangan anak pertama, calon cucu dan rumah tercinta tetap selamat dari terjangan banjir yang berlumpur itu. Saat itu beliau sudah berumur 59 tahun. Tidak ada firasat apapun bahwa bencana besar akan menimpa keluarga dan komunitasnya. Hujan memang sedang turun sederas-derasnya, seperti tak mau berhenti. Ternyata bahaya sedang mengintai di puncak Ile (gunung) Mandiri. Sebuah gunung tak berapi yang “melahirkan” legenda raja-raja Larantuka. Salah satu sisi gunung itu tak kuat menopang air hujan yang volumenya terus bertambah. Airnya meluap dan “menerjang” kota yang tenang itu. Lumpur dan batu turut dibawa dan memporak porandakan apa saja yang dilewati. Bunyi batu-batu raksasa yang berguling dari lereng gunung menuju kota mengagetkan masyarakat yang sedang terlelap tidur. Serempak semuanya berhamburan keluar rumah tak tentu arah. Suasana malam yang tenang berubah menjadi riuh.

Wajah panik dan teriakan beradu. Begitu juga Opa dan keluarga saya yang lainnya. Mereka sudah meninggalkan rumah namun karena teringat akan radio kesayangan, Opa saya memutuskan untuk kembali ke rumah. Demi radio kesayangan beliau nekad, meski banjir lumpur itu kian mendekat. Niat beliau tak kesampaian karena banjir lebih dahulu menerjang rumah beserta isinya. Opa saya sempat terseret banjir namun beliau berhasil menggapai ranting pohon sambil berjuang melawan arus banjir yang menyeretnya ke arah pantai.

Setelah banjir berlalu, masyarakat yang masih ketakutan kembali melihat kondisi rumah dan mencari sanak keluarganya. Beberapa keluarga Ayah dan warga lainnya turut mencari Opa yang tadi terpisah karena ngotot menyelamatkan radio kesayangannya. Rasa khawatir menghinggapi mereka. Mereka terus berteriak memanggil Opa namun tidak ada jawaban sama sekali. Ternyata ada seorang warga yang melihat sesosok pria sedang bergantungan pada ranting sebuah pohon, namun tak dapat dikenali karena wajahnya tertutup Lumpur. Kaos dan sarung yang dikenakannya juga kotor bercampur lumpur. Warga pun bergegas menurunkan sosok tersebut dan setelah membersihkan Lumpur di wajahnya baru dikenali. Ternyata Opa saya yang terlihat lelah karena cukup lama ia bergantungan sambil melawan terjangan banjir. Meskipun nekad menyelamatkan radio kesayangan, beliau masih memiliki semangat hidup yang tinggi.

Saat itu pasti suasana haru dirasakan keluarga saya, namun kini cerita tersebut selalu mengundang tawa bagi kami sekeluarga dan menjadi salah satu kenangan yang tak terlupakan. Beliau telah meninggal beberapa tahun yang lalu ketika sudah berusia 84 tahun. Saya masih terus berpikir, demi radio kesayangan beliau berani menyabung nyawa. Rest In Peace Opa.

One response

  1. okz bgt

    February 13, 2010 at 12:17 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s