Karakter Diri dan Stigma Budaya di Indonesia

Teori evolusi Charles Darwin merupakan terobosan besar pada zamannya namun kontroversinya tak lekang oleh waktu.

sumber: www.google.co.idPenganut-penganutnya terus memodifikasi dalam berbagai dimensi ilmu namun saya selalu yakin akan causa prima yaitu Tuhan. Artinya Tuhan menjadi penyebab utama atau pencipta alam semesta ini. Akal budi manusia yang diberikan Tuhanlah yang menurut saya mengalami evolusi sesuai kebutuhannya. Evolusi akal budi inilah yang lebih menakjubkan karena manusia mampu meningkatkan kemampuan kognitifnya berdasarkan kepekaan sosial.

Disiplin-disiplin ilmu sosial seperti Sosiologi, Sejarah, Filsafat atau yang lainnya sudah menjelaskan bagaimana manusia memutuskan untuk hidup berkelompok hingga membentuk masyarakat karena adanya kebutuhan yang bersifat komplementer. Cara hidup manusiapun berubah dari meramu (food gathering) menjadi bercocok tanam (food production). Norma-norma yang mengatur hubungan antara anggota masyarakat pun mulai tercipta. Selanjutnya berbagai pranata atau sistem sosial berkembang semakin kompleks seiring perkembangan zaman. Menakjubkan bukan? Belum lagi jutaan bahasa yang tersebar di seluruh dunia dan ragam suku-bangsa yang memiliki kekhasan masing-masing. Semua menjadi menarik untuk diurai namun saat ini saya ingin melihat bagaimana evolusi sosial manusia yang menakjubkan tersebut mentransformasi karakter individu atau masyarakat menjadi sebuah identitas budaya, yang kini cenderung berbentuk stigma.

Entah bagaimana prosesnya, kita sering memberikan stigma atau label seseorang sesuai dengan latar belakang budayanya. Stigma-stigma tersebut tumbuh dan berkembang seiring peradaban manusia. Penelitian-penelitian kualitatif cukup banyak yang memperkuat stigma-stigma tersebut namun secara kuantitatif stigma budaya yang kita pahami belum tentu merepresentasi karakter masyarakatnya. Apalagi jika kita melihat kembali sejarah budaya-budaya tertentu yang ternyata tidak melegitimasi stigma-stigma tersebut.

Indonesia yang memiliki ratusan suku dengan aneka ragam bahasa tentu saja merangsang terciptanya stigma budaya yang seolah-olah mengeneralisasi karakter masyarakatnya. Saat ini secara khusus saya ingin melihat stigma-stigma budaya yang disematkan pada beberapa suku di Indonesia. Tentu saja tidak semua suku yang saya bahas, tapi akan akan uraikan mengenai stigma budaya suku Jawa dan stigma budaya suku-suku di kawasan timur Indonesia yang selama ini kita anggap saling bertentangan.

Stigma Budaya Orang Jawa

Filsafat Jawa yang menjunjung tinggi keserasian atau harmoni diterjemahkan menjadi sikap nrimo yang cenderung negatif. Stigma ini kemudian digeneralisasi menjadi karakter individu atau masyarakat Jawa. Stigma budaya ini sudah cukup lama melekat dalam masyarakat Jawa, bahkan pada masa kolonial sangat mempengaruhi kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Hal ini terungkap dalam buku karya Capt. R. P. Sunyono tentang peperangan kerajaan di nusantara (2003).

Menarik untuk diketahui bahwa tugas dan upah pasukan KNIL (Koinklijke Nederlandsche Indische Leger) yang bersuku Jawa disesuaikan dengan stigma budayanya. Dalam setiap operasi, prajurit Jawa selalu ditugaskan untuk menciptakan perdamaian setelah prajurit Ambon, Manado dan Timor menggempur musuh di garis depan. Hal ini didasarkan pada karakter prajurit Jawa yang tenang dan mampu menahan diri. Jumlah prajurit Jawa yang mayoritas saat itu (45%) jika dibandingkan dengan suku lain ternyata tidak membuat mereka diapresiasi secara adil. Prajurit Jawa mendapatkan perlakuan diskriminasi dalam hal pendapatan, baik mengenai gaji, makanan, uang pensiun hingga bantuan kesehatan. Bahkan prajurit Jawa baru diizinkan menggunakan sepatu setelah ada protes dari perwira-perwira KNIL yang membela mereka. Lagi-lagi perlakuan diskriminasi tersebut didasarkan pada stigma budaya prajurit Jawa yang katanya kurang berani dan bersikap nrimo. Jadi mereka dinilai dapat menerima perlakuan tersebut meskipun tidak adil.

Stigma budaya yang disematkan pada orang Jawa tersebut masih terasa hingga kini namun jika kita membaca ulang sejarah dan mengkaji kembali karakter orang Jawa maka stigma tersebut sudah tidak relevan lagi. Saya sependapat dengan J. van der Weijden – menantu Jenderal van Heutz yang sukses meredam pemberontakan Aceh- yang mengatakan bahwa selain orang Aceh, orang Jawa adalah lawan Belanda yang paling tangguh dan berani. Hal ini terbuktiĀ  selama berlangsungnya Perang Jawa (1825-1830) yang menewaskan kurang lebih 15000 prajurit Belanda dan kurang lebih 200.000 orang Jawa. Pada masa kini pun stigma budaya pada orang Jawa perlu diluruskan karena mobilitas sosial sudah berlangsung masif, jadi tidak relevan jika sikap nrimo diasosiasikan dengan fatalisme.

Stigma Budaya Suku di Kawasan Timur Indonesia

Oposisi dari stigma budaya suku Jawa yang harmoni adalah stigma budaya suku-suku di kawasan timur Indonesia dan di kawasan lain yang bersifat keras. Stigma ini dinilai mencerminkan masyarakatnya yang lebih keras dalam berbicara (blak-blakan) dan bersikap. Dibandingkan dengan suku Jawa yang cenderung harmoni, mereka lebih sering berkonflik. Tidak heran jika dalam pasukan KNIL orang Manado, Ambon dan Timor ditugaskan untuk menyerang dan menggempur pasukan musuh. Mereka dinilai lebih berani sehingga mendapat upah yang lebih baik. Itulah stigma yang terbentuk sehingga orang mempercayainya.

Berkaitan dengan hal ini, saya teringat akan seorang teman semasa kuliah yang juga berasal dari NTT. Karakter keras dan berani yang disematkan pada kami, sekelompok mahasiswa yang berasal dari kawasan timur Indonesia, membuat ia merasa memiliki “kewajiban” untuk mempertahankannya. Dalam setiap kesempatan ia selalu menunjukannya bahkan cenderung berlebihan. Sejujurnya saya akui bahwa ia tak setangguh itu, namun stigma yang terbentuk mengharuskannya melakukan hal demikian demi sebuah pengakuan.

Jadi bila dicermati secara mendalam, stigma-stigma budaya yang melekat pada suku-suku di Indonesia tidak selalu mencerminkan karakter masyarakat. Seiring perkembangan zaman, karakter masyarakat makin dipengaruhi oleh banyak faktor yang dialami oleh mereka. Orang Jawa yang dinilai tidak sekeras orang Ambon atau daerah lain justru memiliki sejarah peradaban yang sangat heroik sejak zaman Majapahit, Mataram, Diponegoro hingga era revolusi kemerdekaan. Itu adalah fakta sejarah jadi kita tidak bisa menafikannya.

Rekonstruksi Stigma Budaya

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan karakter-karakter yang berbentuk stigma budaya, yang perlu diubah adalah persepsi kita. Stigma-stigma budaya yang terlanjur disematkan perlu direkonstruksi kembali. Konsep nrimo dalam masyarakat Jawa sebenarnya membawa pesan agar kita jangan mengeluh akan hidup ini sembari harus tetap berusaha. Begitu juga dengan konsep harmoni yang justru mengingatkan kita agar dapat menahan dan mengendalikan diri dalam berinteraksi agar tidak berbuah konflik.

Suku di kawasan timur yang dipersepsikan keras tidak selalu identik dengan kekerasan fisik seperti premanisme atau yang lain tetapi mengandung nilai-nilai kejujuran atau tidak munafik karena apa yang dipikirkan itulah yang diutarakan. Seharusnya karakter ini menjadi bakal dari integritas diri. Persepsi yang sama juga seharusnya kita terapkan pada suku-suku lain di Indonesia. Akhirnya kita tidak bisa mengelak bahwa karakter diri bukan sebuah keajaiban namun berproses seturut budaya di mana kita berada.

8 responses

  1. larantuquerros

    Terima kasih pater…

    April 7, 2013 at 6:27 am

  2. Ryan tulisannya bagus, inspiratif

    April 4, 2013 at 7:05 am

  3. Pingback: 2010 in review « larantuquerro's Weblog

  4. larantuquerros

    tergantung perspektif kita bung….sumpah palapa mengilhami foundimg fathers kita untuk menyatukan semua suku menjadi INDONESIA.

    August 17, 2010 at 1:06 pm

  5. Garri

    majapahit sejarah heroik ????, sepertinya cenderukng ke penjajahan terhadap suku bangsa yang lain deh !

    August 11, 2010 at 10:53 am

  6. Ichal

    pembentukan stigma dari kepala(pikiran) hingga turun ke ciri fisik menyebabkan adanya streotype terhadap suku apapun yg ada di indonesia.yg berkembang setiap suku menjadi kelompok sosial yg fanatik dan arogan…

    March 1, 2010 at 6:50 pm

  7. lugtyastyonobudparpora

    wah bagus nich blog nya

    February 19, 2010 at 12:02 pm

  8. http://mobil88.wordpress.com melihat artikel anda yang luar biasa…
    Sukses ya

    February 19, 2010 at 11:58 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s