Obrolan Anak Kecil Tentang Xanana Gusmao dan Fretelin

Ilustrasi/easttimorlegal.blogspot.com

Ilustrasi/easttimorlegal.blogspot.com

Pada tanggal 20 November 1992, Jose Alexandre Gusmao (Xanana Gusmao)–Perdana Menteri Timor Leste saat ini–ditangkap oleh Kopassus di tempat persembunyiannya. Berita ini–mungkin–disambut gembira oleh masyarakat Indonesia, namun yang pasti segenap masyarakat NTT merayakan penangkapan ini. Masyarakat NTT, khususnya yang tinggal di pulau Timor bagian barat selalu mengikuti perkembangan situasi di Timor (Leste) Timur dari hari ke hari dan penangkapan Xanana Gusmao yang menjadi buron selama 16 tahun sungguh melegahkan hati. Saya lupa akan kronologi penangkapannya, namun seingat saya saat itu penangkapannya menjadi Headline di surat kabar lokal. Kalau tidak salah ia tertangkap di dalam sebuah bunker yang menjadi tempat persembunyian di tengah hutan.

Tahun 1992 saya masih duduk di bangku kelas 4 SD, namun nama Xanana Gusmao dan Fretelin sangat familiar di telinga kami, anak-anak kecil pada masa itu. Xanana Gusmao dan Fretelin selalu menjadi topik menarik dalam obrolan kami, bukan orientasi politiknya–karena kami tidak mengerti tentang politik–namun sepak terjang mereka dalam peperangan dengan ABRI atau pejuang integrasi yang sangat mendebarkan. Selain itu, keluarga kami yang menjadi tentara juga dikirim ke Timor Timur sehingga banyak cerita yang diperoleh mengenai sepak terjang Xanana dan Fretelin. Paman saya–adik kandung ayah–menjadi salah satu tentara Indonesia yang gugur di Timor Timur.

Pada awal tahun 90 an saya tinggal dan bersekolah di kota Kupang,–ibu kota propinsi NTT–kota yang kelak menjadi salah satu konsentrasi pengungsi Timor Timur (pendukung integrasi). Saat itu Timor Timur masih merupakan bagian dari NKRI (propinsi termuda) dan menjadi Daerah Operasi Militer (DOM) karena sepak terjang Fretelin yang dianggap sebagai Gerakan Pengacau Keamanan (GPK). Kami–saya dan teman-teman sekolah–banyak mendapat cerita tentang Timor Timur dari keluarga atau orang lain yang kami kenal. Entah cerita ini benar atau sekedar hoax namun kami sangat mempecayainya. Cerita-cerita tersebut pun membentuk citra Xanana Gusmao dan Fretelin di mata kami.

Setiap pagi sebelum jam pelajaran dimulai dan saat beristirahat, kami selalu membicarakan kelihaian Xanana dalam menghindari penyergapan ABRI selama bertahun-tahun. Berkembang cerita bahwa Xanana memiliki ilmu menghilang dan kebal terhadap peluru. Ilmu yang dimilikinya inilah yang membuat ia sulit ditangkap oleh ABRI selama begerilya di hutan belantara. Xanana dan anggota Fretelin lainnya sering menyamar dan berbaur dengan keramaian masa di perkotaan dan secara tiba-tiba melakukan penyerangan sehingga banyak memakan korban. Teman saya pernah melukiskan tampang mereka sungguh sangar–seperti pernah melihat sendiri–dengan jenggot yang tumbuh lebat serta rambut ikal yang tidak pernah dicukur. Mereka terkenal cukup mahir bergerilya.

Tentara Fretelin (Sumber/www.klikunic.com)

Oleh karena itu, citra Fretelin di mata kami–yang tidak mengerti masalah politik–adalah kelompok pemberontak yang sangat kejam dan menakutkan. Mereka sering menyerang pos-pos ABRI bahkan menyerang kota secara tiba-tiba dan menghilang ke bukit-bukit di sekitarnya. Beberapa keluarga kami yang bertugas di Timor Timur–sebagai tentara–meninggal di tangan mereka ketika berperang atau disergap saat sedang berpatroli.

Dewasa ini saya mengetahui bahwa Fretelin merupakan partai yang berpaham Marxisme, namun dulu berkembang cerita bahwa anggotanya termasuk penganut Katolik yang taat. Ada salah seorang teman saya yang bercerita bahwa saudaranya dibebaskan oleh Fretelin, karena ketika hendak dieksekusi–dalam sebuah penyergapan–ia berdoa secara Katolik. Entah cerita ini benar atau tidak, namun Xanana dan Fretelin selalu menjadi topik menarik dalam obrolan saya dan teman-teman di sekolah sejak akhir dekade 80an hingga ia tertangkap pada tahun 1992.

Pada tahun 1997 saya berkunjung ke Timor Timur dan cerita Fretelin masih membekas di benak meski Xanana telah dipenjara selama 5 tahun. Pemeriksaan di perbatasan Batugade, Kabupaten Belu NTT dengan propinsi Timor Timur cukup ketat seperti perbatasan dua negara. Saya harus menunjukkan kartu pelajar –karena belum memiliki KTP–kepada tentara penjaga perbatasan agar dapat melanjutkan perjalanan. Tujuannya adalah kota Dili yang merupakan ibu kota propinsi Timor Timur namun kami harus melewati beberapa daerah yang selalu dihiasi pemandangan bukit. Saat itu Fretelin masih memiliki basis perlawanan sehingga saya cukup tegang dalam perjalanan ini. Bayangan bahwa bus yang kami tumpangi akan diserang oleh Fretelin sempat terbesit namun untungnya kami tiba dengan selamat, begitupun ketika kami pulang.

Menjelang referendum Timor Timur, Xanana Gusmao makin sering tampil di layar kaca dengan berbagai kisahnya. Bayangan masa kecil tentangnya ternyata sangat berbeda karena ia terlihat cukup humanis, tidak seseram yang saya bayangkan. Ia beruntung karena ketika tertangkap, Tri Sutrisno–Pangab saat itu–tidak menghendakinya dibunuh meski saat itu ada dua pilihan baginya, dipenjara atau dibunuh. Mungkin sejarah Timor Leste akan berbeda jika saat itu ia dibunuh, tapi itulah takdirnya. Ia ditakdirkan untuk tetap hidup dan memimpin negara Timor Leste. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s