Teknik Mengupas Mangga dan Stereotip

Ilustrasi/lihazna.blogspot.com

Ilustrasi/lihazna.blogspot.com

Tulisan ini akan saya mulai dengan sebuah pertanyaan bagi para pembaca “Bagaimana cara anda mengupas Mangga?” Tentu saja anda semua mengupas mangga dengan menggunakan pisau, namun yang sering berbeda adalah arah kupasan anda. Ada yang ke depan, ke belakang atau memutar tanpa memutuskan kulit mangga tersebut. Teknik yang terakhir jarang saya temukan, sejauh ini hanya ayah saya yang sering mempraktekkannya.

Teknik mungupas ke depan sering saya lihat ketika menginjakkan kaki pertama di tanah Jawa (Yogyakarta) pada tahun 2001 hingga sekarang. Di kampung halaman saya (NTT) teknik ini jarang saya temukan karena kebanyakan masyarakat setempat -termasuk saya dan keluarga saya- mengupas mangga dari arah depan ke belakang. Teknik yang membahayakan kata istri saya -waktu itu masih pacaran- karena dapat melukai tubuh orang yang mengupas mangga tersebut. Saat itu saya coba membela diri dengan mengatakan bahwa itu tandanya kami (orang NTT) berani -sejujurnya tidak semua seperti itu- namun istri saya langsung menghardik saya “Itu bukan berani tapi konyol! Gimana kalo kupas mangga tapi pisaunya bablas kena perut atau tangan? lebih baik mencegah! Hardikan istri saya ini mengubah cara saya mengupas mangga menjadi ke arah depan, meskipun sempat kesulitan.

Belum ada survei yang memetakan teknik mengupas kulit mangga ini di seluruh Indonesia, namun saya cenderung melihat kebanyakan masyarakat Indonesia di bagian barat -khususnya pulau Jawa- mengupas mangga dari arah belakang ke depan. Kupasan yang penuh kesabaran, hati-hati namun hasilnya memuasakan, sedangkan teknik mengupas dari arah depan ke belakang cenderung dilakukan oleh masyarakat di kawasan Indonesia Timur. Beberapa teman kuliah saya yang berasal dari Ambon dan daerah lain juga menggunakan teknik ini -mungkin tidak semua. Jika diperhatikan teknik kupasan ini memang cenderung membahayakan diri, sedikit terburu-buru tanpa berpikir panjang namun hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Saya tidak bisa mengeneralisir bahwa teknik kita mengupas mangga ini menjadi stereotip budaya atau daerah kita berasal, namun secara subjektif banyak orang beranggapan seperti itu.

Salah satu stereotip yang langsung saya dengar adalah ketika masih SMA pada akhir dekade 90-an, saya bersama teman-teman mengunjungi salah satu kenalan yang kebetulan menjadi polisi di kepolisian resort setempat. Ketika sedang menunggunya, kami sempat berbincang-bincang dengan dua orang polisi yang berpangkat brigadir -saya lupa tepatnya- dan kebetulan mereka sedang makan buah mangga. Kedua polisi ini berasal dari Bali -banyak polisi Bali yang ditugaskan di NTT- dan salah satunya bertanya pada kami sambil mengupas mangga. “Kalian kenapa kupas mangga ke arah belakang?” Saya dan teman-teman hanya menjawab “Mungkin karena sudah biasa pak”. Jawaban kami membuatnya tertawa dan berkata “Karena kebiasaan itu makanya kalian ga maju-maju, mundur terus!”. Pernyataan itu membuat kami tertawa bercampur malu karena memang daerah kami sejak dulu tertinggal dengan daerah lain di Indonesia -khususnya daerah di Indonesia barat. Pernyataan yang cuma bercanda itu bagi kami mungkin ada benarnya juga. Mungkin karena mengupas ke arah depan jadi lebih maju, pikir kami yang masih polos saat itu.

Faktanya propinsi NTT sejak dulu selalu masuk 5 besar propinsi termiskin di Indonesia. Hasil survei BPS tahun 2010 memberikan fakta bahwa 5 besar propinsi termiskin di Indonesia berasal dari kawasan Indonesia Timur -termasuk NTT. Akan tetapi hal ini bukan bukan karena masalah teknik mengupas mangga, namun korupsi yang membelit para pejabat daerah yang tidak bertanggung jawab. Anda saksikan kebanyakan pejabat daerah memiliki perut yang gendut, namun rakyatnya selalu ditimpa masalah kelaparan karena puso atau kehausan karena kekeringan. Daerah di NTT pada umumnya memiliki karakter geografis yang tandus, kering dan khusus pulau Timor memiliki tanah yang berbatu karang sehingga bencana kelaparan sering terjadi. Salah urus daerah ini membuat masyarakatnya selalu terbelakang. Padahal NTT memiliki panorama alam yang sangat indah, namun belum bisa memberikan kebahagiaan bagi masyarakatnya.

Tulisan ini merupakan sebuah refleksi pribadi yang melihat stereotip sederhana dari teknik mengupas mangga, namun nyata dalam kehidupan ini. Akan tetapi stereotip bukan membelenggu, namun dapat dilewati asal ada kemauan. Kebanyakan masyarakat NTT menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi, namun yang dibutuhkan adalah pemimpin yang berhati mulia. Tidak memikirkan perutnya sendiri!

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s