Syuradikara dan Cerita Anak Koster

Sumber/naked-timor.blogspot.com

Sumber/naked-timor.blogspot.com

Sebelas tahun meninggalkan Almamater Syuradikara dan belum pernah kembali, tentu saja membuat rasa rindu di hati ini belum sepenuhnya terbayar. Penggalan-penggalan kisah semasa di sekolah dan asrama terkadang membuat saya tertawa sendiri karena—sebenarnya—anak syuradikara memiliki sense of humor yang tinggi meski sering dibalut kenakalan. Berkaitan dengan hal ini, banyak kisah yang menjadi kenangan ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Syuradikara pada tahun 1998 hingga lulus di tahun 2001. Salah satu kisah itu berkaitan dengan tugas saya sebagai anggota Koster hingga akhirnya menjadi Ketua Koster.

Dipilih menjadi salah satu anggota Koster—biasanya tiap angkatan dipilih dua orang— merupakan bagian dari regenerasi, begitupun dengan pos-pos lain yang membutuhkan keterlibatan kami para siswa baru. Kebetulan Ketua Koster saat itu adalah Ka’e Aris Kelen yang masih memiliki hubungan darah dengan saya (orang tua kami bersaudara sepupu) sehingga ia memilih saya sebagai “penerusnya” dan patner saya Hendra (Enga) Kerans yang sebenarnya “dititipkan” oleh kakaknya—Jacky Kerans—yang seangkatan dengan Ka’e Aris Kelen, agar dapat mengubah sifatnya yang agak malas. Pemilihan kami berdua berlangsung saat makan malam dan besok kami mulai bertugas dengan bimbingan Koster senior yaitu Ka’e Berty Tokan.

Entah disengaja atau tidak, dari angkatan sebelumnya anggota Koster selalu disandingkan antara yang “rajin” dan “malas” atau “nakal” dan “alim”. Bukan bermaksud menyombongkan diri namun saat itu saya termasuk yang dianggap alim sedangkan patner saya Hendra Kerans agak bengal, namun ternyata perbedaan ini membuat kami saling melengkapi. Selain perbedaan sifat,—tanpa disengaja—adapun yang menjadi pola lain yaitu salah satu anggota Koster sering tidak menamatkan pendidikan di Syuradikara karena berbagai alasan—beberapa karena masalah kenakalan. Hal tersebut dialami oleh Ka’e Aris Kelen yang menjadi Ketua Koster seorang diri tanpa ada wakilnya, begitupun Ka’e Berty Tokan yang menjadi single Fighter mempersiapkan misa dan ibadah lainnya. Ternyata hal inipun menimpa saya yang harus kehilangan patner karena hanya permasalahan absensi, padahal otaknya cukup cerdas. Menjadi Koster bersama Hendra Kerans sangat membekas karena sifat bengalnya yang dicampur “hobi” tidur menjadikan profesi Koster lebih berwarna. Kebiasaan patner yang satu ini menjadi bagian dari kenangan saya akan Syuradikara.

Learning by doing, itulah yang kami lakukan pada hari pertama. Mengenal perlengkapan misa dan langsung menyiapkannya sebelum misa harian dimulai. Minimal hal-hal sederhana seperti menyalakan lilin di altar—saya lebih sering melakukan tugas ini karena Hendra Kerans “menderita” demam panggung—, menyiapkan sound system atau membantu Pastor menggunakan Kasula dan Stola. Hari pertama kami sudah memahami warna Kasula atau Stola yang akan digunakan oleh Pastor setiap hari atau saat perayaan misa tertentu, begitupun dengan bacaan Kitab Suci. Nama-nama perlengkapan misa seperti Patena, Palla, Corporale, Sibori, Ampul, Uribulum, Navikula dan yang lainnya langsung kami pahami. Sehari-hari hanya kami bertiga di Sakristi karena Ka’e Aris biasanya bergabung bersama anak kelas 3 atau siswa lainnya. Sesekali beberapa teman yang telat mengikuti misa, bergabung bersama kami di “markas” para Koster itu.

Ka’e Berty cukup disiplin sehingga kami dilatih mempersiapkan semuanya di pagi hari sebelum misa dimulai, oleh karena itu kami harus bangun tepat waktu. Cara ini kami ubah di kemudian hari dengan mempersiapakan semuanya pada malam sebelumnya, setelah jam belajar selesai. Ini adalah ide Hendra Kerans karena ia selalu kesulitan bangun pagi dan saya pun langsung menyetujuinya karena tidak perlu tergesa-gesa di pagi hari. Oleh karena semua sudah dipersiapkan pada malam hari, maka seringkali saya tetap tidur meski lonceng bangun tidur sudah berbunyi. Teriakan “gigi” oleh Pater Lambert Niron yang menggelegar dari kedua speaker di kamar tidur tetap tidak berpengaruh hingga terasa ada yang menginjak kedua kaki saya. Spontan saya memegang kaki itu dan ternyata banyak bulunya. Saya langsung teringat akan Pater Lambert Niron yang bulu kakinya cukup lebat, berpostur tinggi dengan jenggot yang memenuhi dagu serta kedua pipinya. Setelah membuka kedua mata ternyata beliau sudah berdiri di sisi tempat tidur. Saya pun langsung menuju kamar mandi setelah menyadari keberadaanya, namun ada teman-teman yang sengaja berdoa ketika dihampiri beliau. Sebuah trick yang cukup jitu karena Pater Lambert Niron sempat terkecoh dengan muslihat mereka. Hal ini menjadi sedikit kenangan yang selalu saya ingat.

Kisah Lucu, Kenakalan dan Improvisasi

Menjadi Koster memberikan kebanggan tersendiri karena tugasnya sungguh mulia. Perasaan kami bercampur aduk apalagi saat membakar lilin karena biasanya beberapa anak Trikara yang duduk di bagian depan “menggoda” kami dan saya sering tertawa melihat wajah Hendra Kerans yang tersipu-sipu di depan altar. Semakin lama kami makin lancar menjalani profesi sebagai Koster dan Ka’e Berty mulai membiarkan kami “mandiri” apalagi setelah kelas 2 (angkatan ka’e Berty) naik jabatan. Seperti ka’e Aris, ka’e Berty pun lebih sering mengikuti misa atau ibadah lainnya (Vesper, Salve, dll) di tempat duduk umat sedangkan kami berdua menjadi penghuni tetap Sakristi. Saat-saat berdua inilah yang melahirkan banyak kisah lucu, improvisasi sekaligus masalah.

Sakristi sudah seperti rumah kami sendiri dan anggapan inilah yang terkadang membuat kami salah memanfaatkannya. Sakristi sering menjadi “kamar tidur” bagi kami di saat Misa berlangsung, bukan hanya para koster tetapi beberapa teman yang lain. Minimal kami duduk di kursi dalam posisi tidur atau menundukkan kepala di meja sakristi dan maksimal tidur di dalam lemari Kasula dan Pastola. Sejujurnya saya tidak pernah tidur di dalam lemari ini, namun Hendra Keranslah yang menjadikannya sebagai tempat ideal untuk melanjutkan tidurnya. Keberadaanya di dalam lemari ini sering tidak diketahui oleh orang lain selain saya, hingga suatu saat—ketika misa selesai—salah satu tangannya menjulur keluar dan membuat suara gaduh karena pintu lemari pun ikut terbuka. Hal ini tentu saja membuat anak-anak Trikara yang kebetulan menjadi ajuda berteriak karena kaget, namun seketika berubah menjadi tawa karena mengetahui keberadaan Hendra Kerans. Untung saja Pater Kaliks—jika tidak salah—yang memimpin misa saat itu sudah keluar dari Sakristi. Mengenai anak Trikara, para koster dan beberapa teman yang sering “nongkrong” di Sakristi sangat senang jika mereka yang menjadi ajuda, apalagi siswi kelas satu yang belum tahu cara mengikat singel (tali di pinggang) maka kamilah yang akan mengikatkannya.

Lucu dan nakal seolah-olah menjadi dua sisi yang terus mewarnai perjalanan kami selama menjadi Koster di SMU Syuradikara. Berpatner dengan Hendra Kerans membuat kedua hal ini selalu kami alami sehari-hari. Hosti dan anggur seolah-olah menjadi santapan kami setiap malam saat menyiapkan perlengkapan misa. Kondisi ruang doa para pastor yang sepi di malam hari membuat kami leluasa menyantapnya. Katanya—entah benar atau tidak—dulu anggur langsung dikirim dari Roma jadi rasanya sungguh enak, namun karena beberapa kendala maka hal itu tidak dilakukan lagi. Anggur sekarang rasanya seperti anggur orang tua, namun cukup menghangatkan di malam hari. Hosti-hosti yang belum diberkat pun—meskipun hambar—tetap enak dimakan dalam jumlah yang banyak. Hendra Kerans lebih “ekstrim” karena hosti yang masih baru (satu plastik), separuh digunakan untuk misa dan separuhnya lagi dibawa pulang ke asrama dan disantap bersama teman-teman yang lain. Untung saja hosti dan anggur tidak pernah diaudit sehingga jika sudah habis pasti ada stock baru.

Menurut saya bersenang-senang seperti ini memang salah, namun ini menjadi bagian dari masa remaja yang harap dimaklumi. Menjadi koster juga bukan pekerjaan mudah karena cukup besar tanggung jawab yang kami emban. Masalah seringkali menghampiri dan kami berusaha untuk mejalankan tugas hingga selesai. Kami dulu seringkali mengalami masalah dengan Turibulum (tempat membakar dupa) karena Turibulum yang kami miliki sudah cukup tua dan sebagian besar sisinya hangus terkena bara api. Hal ini menyebabkan rantai Turibulum sering kali putus sehingga menimbulkan masalah lain.
Turibulum ini sering dipakai saat Ibadat Salve atau perayaan misa tertentu yang memerlukan pendupaan liturgis. Saya bangga memiliki patner Hendra Kerans karena dialah yang sering menjalankan tugas mengisi bara di dapur asrama putra (Asyur). Saat itu kami lebih senang mengisi bara di dapur karena stocknya lebih banyak dan kami tidak perlu susah-susah membuat bara baru dari sabuk kelapa atau yang lainnya. Biasanya bara ini diganti secara berkala karena habis atau tidak menghasilkan api lagi dan ketika sedang tidak digunakan maka Hendra Kerans akan menambah bara di dapur Assyur. Masalah muncul ketika patner saya ini belum muncul juga meski Turibulum sudah harus digunakan lagi. Alhasil ibadat Salve atau misa sempat terhenti karena ajuda yang sudah berada di sakristi masih menunggu kedatangan Hendra Kerans. Saya yang menunggui sakristi pun turut panik dan beberapa kali membantunya membenarkkan rantai Turibulum di dapur Asyur. Masalah ini sering membuat kami dimarahi Pastor, namun kami sering mengeluhkan kondisi Turibulum yang sudah tidak layak dan akhirnya diganti dengan yang baru.

Meski sering mengalami masalah yang bercampur kenakalan, namun kami tetap bertanggung jawab dengan tugas ini. Kami juga serius dengan tanggung jawab ini dan sebisa mungkin melakukan perbaikan pada beberapa tata cara yang kurang efektif. Salah satunya dengan mengubah cara ajuda yang sebelumnya–bagi kami terlihat–tidak efektif karena harus bolak balik mengambil ampul yang berisi air untuk cuci tangan Pastor dan anggur yang akan diminum oleh Pastor.

Sayangnya Hendra Kerans harus meninggalkan Syuradikara lebih dulu karena permasalahan absensi yang membuatnya harus dikeluarkan oleh sekolah. Untungnya saya sudah memiliki penerus koster saat itu, namun saat menjadi ketua koster pun saya tidak bisa sesantai Ka’e Aris atau Ka’e Berty yang memantau dari jauh. Sering kali persiapan yunior yang kacau membuat saya terkena tinju pater Wilfried Parera di kelas 3 bahasa karena tanggung jawab saya sebagai ketua koster saat itu. Semuanya saya terima sebagai bagian dari proses belajar yang pasti bermanfaat di kemudian hari. Inilah sedikit memori yang tersisa di benak saya akan almamater tercinta. Teman-teman yang memiliki gambaran lebih utuh bisa mengomentari tulisan ini.  Viva Syuradikara!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s