Tak Mau Kupejamkan Mata ini (Balada Seorang Pejuang)

foursquare.com

foursquare.com

Cahaya mentari itu membentuk garis-garis putih, lurus menembus celah dedaunan yang lebat. Masih terasa hangat di wajah, namun pupil mata yang makin mengecil ini tak merasakan kilauannya. Mata ini hampir terpejam, namun hembusan angin yang sesekali menggetarkan rumpun bambu itu membuatku terjaga. Sayup-sayup desingan pelor yang disertai teriakan pilu masih terdengar. Tubuh-tubuh itu pun bergelimpangan di sekitarku. Aku tak mampu melihat wajah-wajahnya dengan jelas, namun kuyakin mereka teman seperjuanganku.

Apa yang kupertaruhkan? Hidup ini? aku ikhlas. Semua manusia pasti akan menemui ajalnya, saat seperti ini hanya ada dua pilihan bagiku merdeka atau mati! Pilihan ini masih membuatku cemas, takkan sia-siakah perjuanganku? Bukan hanya aku, tubuh-tubuh yang roboh tertembus pelor itupun meninggalkan semuanya demi jalan ini, jalan yang curam dan terjal. Jalan yang dapat merenggut nyawa kapanpun.

Sudah tiga tahun kutempuh jalan ini, jalan yang kupilih sendiri bukan paksaan siapapun. Selama itu pula kutinggalkan bangku sekolah yang menjadi alasanku merantau ke tanah ini. Aku tak pernah menyesali keputusanku meninggalkan kampung halaman, meski kini terkapar tak berdaya. Isak tangis ibuku masih membekas di benak, tapi tak meluluhkan kemauan kerasku. Sifat yang diwariskan oleh ayah yang hanya terdiam menatap mataku, tanpa kuketahui apa yang sedang dipikirkannya. Wajah adik-adikku terlihat polos, namun ada kesedihan yang tergurat di wajah mereka.

Kuseka air mata ibuku dan bergegas meninggalkan rumah yang penuh kenangan itu. Kenangan itu tak bisa kulupakan saat kapal kecil tua De Clerq meninggalkan pelabuhan Ende, sebuah kota kecil di pulau Flores. Perjalanan yang membawaku berhari-hari mengarungi lautan dari Flores hingga ke Jawa. Di sinilah takdirku terukir, di bebatuan, di pematang, di setiap jejak yang kutinggalkan. Kini aku terkapar tak berdaya, tak bisa melanjutkan jejakku. Entah apa yang selanjutnya terjadi padaku.

“Cukimai kawanua”, bangun! Hardikan keras itu membuatku kembali tersadar. Tampak samar-samar tetapi dari seragam yang dikenakannya ia pasti seorang tentara KNIL. Rupanya ia mengira aku berasal dari Minahasa karena aku tergabung dalam pasukan Persatuan Pelajar Sulawesi (Perpis) . “Bangun cepat!” suara itu terus memaksa sambil menodongkan moncong senapannya ke wajahku. Aku hanya bisa mengangkat kedua tangan sambil tetap terbaring di tanah. Tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Tubuh ini terasa tak bertenaga lagi, terkuras oleh darah yang terus mengalir di sisiku. Entah di mana luka itu, tubuhku mati rasa. “Angkat dia!” seru seseorang yang tampaknya memiliki pangkat lebih tinggi darinya.

***

Aku tersadar saat seorang wanita mengganti perban di punggungku, cukup perih terasa namun tenagaku berangsur-angsur pulih. “Bung sudah sadar? Bung tertidur cukup lama”. “Terima kasih anda sudah merawat saya” kataku. “Ini tugas saya. O iya siapa nama anda? Saya Sulastri”, perawat itu memperkenalkan dirinya. “Saya Yosep”, jawabku singkat. “Sepertinya anda berasal dari luar pulau Jawa”, “iya betul saya berasal dari Flores”. “Oooo..kalo saya berasal dari Magelang, kebetulan ditempatkan di rumah sakit ini”.

Kucoba melihat ke sekeliling dan kusadari diriku satu-satunya yang bukan merupakan tentara KNIL di bangsal itu. Ternyata aku masih dibiarkan hidup, entah apa maksud mereka. Sekedar menjalankan etika HAM atau ada hal lain? Tiba-tiba dari arah pintu terdengar teriakan cukup keras “Ambil itu ekstrimis dan bawa ke bui”. Beberapa opsir Belanda berkulit hitam segera menghampiriku dan meminta sang perawat mencabut infus di tanganku. “ Ayo ikut kami” kata salah seorang opsir. Tubuhku yang masih lemah langsung diseret mereka ke dalam sebuah truck yang juga membawa beberapa tahanan. Tak seorangpun tahanan itu yang kukenali, mungkin mereka berasal dari kesatuan lain. Aku hanya mengenakan kaos oblong dan celana panjang coklat kotor dan masih terlihat bercak-bercak darah.

Daerah ini terasa asing bagiku. Bangunan-bangunan dan situasinya tak pernah kukenali. Sepertinya jauh dari desa Sidobunder tempat terakhir yang kudatangi, tempat di mana aku terkapar tak berdaya. Menyadari diriku yang sedang mengamati keadaan sekitar, salah seorang opsir bergegas menutup mataku dengan selembar kain hitam. Truck tersebut melaju cukup kencang, bunyi rem angin sesekali terdengar. Jalan yang tidak terlalu mulus itu membuat tubuh kami sering terguncang, terpaksa harus kutahan sakit di punggung ini.

Truck tersebut akhirnya berhenti pada sebuah tempat. Semua ikatan yang menutupi mata kamipun dibuka. “Baris dua-dua orang yang rapi, tangan di atas kepala! Sekarang masuk!” Pintu gerbang yang terbuat dari besi itu dibuka dan kami ditempatkan di ruang sel yang sama. Ruang yang sempit itu membuat kami harus berdesak-desakkan satu dengan yang lain. Ternyata aku hanya semalam menempati sel itu, keesekoan hari aku dipindahkan ke sebuah sel isolasi dan diinterogasi dengan sangat ketat oleh beberapa opsir.

“Kau yang tembak Kapten Ludwig? “Tidak tahu, itu peperangan! Jawabku singkat”. “Tapi kau bisa lihat pangkatnya!” “Waktu perang, saya hanya lihat seragam, bukan pangkat!”. “Kurang ajar!” sepertinya mereka tidak menghendaki jawaban itu dan akupun dipukul dengan menggunakan popor senapan hingga terjatuh dari kursi kayu. Tubuhku ditendang dan diinjak dengan sepatu lars yang mereka kenakan hingga lebam. “Waktu kau ditangkap! senjata ini yang kau pegang!” seorang opsir menunjukkan sebuah revolver. Aku langsung teringat akan sebuah revolver yang kuambil saat senapan laras panjangku kehabisan peluru. Namun revolver ini belum sempat kugunakan karena sebuah peluru lebih dulu menghantam tubuhku dan seketika itu juga merobohkanku.

“Peluru di tubuh Kapten Ludwig sama dengan peluru revolver ini! Jadi jelas kau yang tembak. Akui saja!” opsir tersebut tampak semakin berang. “Revolver itu baru saya ambil, namun saya sudah tertembak duluan” aku mencoba membela diri, namun aku sudah siap menghadapi apapun yang akan terjadi. “Omong kosong, terbukti kau yang tembak Kapten Ludwig!” tubuh ini kembali dipukul dan ditendang dan aku dipaksa menandatangani kertas yang belum sempat kubaca isinya. Sejak itu aku tetap dikurung pada sebuah sel isolasi dengan makanan seadanya. Pada hari ke empat, pintu sel yang tidak pernah terbuka itu tiba-tiba terbuka dan seorang Opsir bersama seorang Pastor datang menghampiriku. Sang Pastor mengajakku berdoa dan menasehatiku agar ikhlas menghadapi cobaan ini.

Kunjungan seorang Pastor menandakan bahwa ajalku semakin dekat. Tak pernah kusesali pilihan ini, meski harus mati di usia muda. Aku hanya satu dari ribuan rakyat negeri ini yang menginginkan kemerdekaan! Kematianku takkan menyurutkan semangat itu. Aku hanya ingin tak ada lagi penjajahan meski nyawa ini kupertaruhkan!

 Di sebuah hutan yang hanya disinari rembulan, aku diikat pada sebuah tiang. Lima orang penembak jitu berdiri 50 meter di hadapanku. Pastor dan beberapa tentara KNIL berdiri di sisi kanan dan kiri area itu. Seorang tentara akan menutup mataku dengan sebuah kain, namun aku menolaknya. “Aku tak ingin memakai penutup kepala ini agar dapat melihat pelurumu menembus jantungku!” seruku. “Tembak!” teriakan itu menembus senyapnya malam. Tak sempat kulihat peluru itu, namun terasa menembus kulit ini. Sekejap tubuhku terkulai. Kutemui ajalku di tiang ini, seorang diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s